Minggu, 15 Februari 2015

PENGEMBANGAN SOSIAL EMOSI DAN EMOSI PADA ANAK TK/ PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)



. PENGERTIAN EMOSI
          Menurut English and English, emosi adalah “A complex feeling state accompanied by characteristic motor and glandular activities” (suatu keadaan perasaan yang kompleks yang disertai karakteristik kegiatan kelenjar dan motoris). Sarlito Wirawan Sarwono berpendapat bahwa emosi merupakan “setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik pads tingkat lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang lugs (mendalam). Sedangkan menurut Syamsu Yusuf (2002) menjelaskan bahwa emosi anak bertalian dengan perasaan fisik, dengan kualitas perasaan senang (like) dan tidak senang (dislike) jasmaniah­.


     PENGARUH EMOSI TERHADAP PERILAKU DAN PERUBAHAN FISIK INDIVIDU
          Emosi merupakan warna afektif yang menyertai setiap keadaan atau perilaku individu. Yang dimaksud warna afektif ini adalah perasaan-perasaan tertentu yang dialami pada saat menghadapi (menghayati) suatu situasi tertentu. Contohnya, gembira, bahagia, putus asa, terkejut, benci (tidak senang), dan sebagainya. Di bawah ini ada beberapa contoh tentang pengaruh emosi terhadap perilaku individu diantaranya sebagai berikut :
1.    Memperkuat semangat, apabila orang merasa senang atau puas atas hasil yang telah dicapai.
2.    Melemahkan semangat, apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan dan sebagai puncak dari keadaan ini ialah timbulnya rasa putus asa (frustasi).
3.    Menghambat atau mengganggu konsentrasi belajar, apabila sedang mengalami ketegangan emosi dan bisa juga menimbulkan sikap gugup (nervous) dan gagap dalam berbicara.
4.    Terganggu penyesuaian sosial, apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati.
5.    Suasana emosional yang diterima dan dialami individu semasa kecilnya akan mempengaruhi sikapnya di kemudian hari, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.

          Sedangkan perubahan emosi terhadap perubahan fisik (jasmani) individu dapat dijelaskan dengan gambaran sebagai berikut :
Canon telah mengadakan penelitian dengan sorotan sinar “rontgen” terhadap seekor kucing yang baru selesai makan. la melihat bahwa perut besarnya aktif melakukan gerakan yang teratur untuk mencerna makanan. Kemudian dibawa ke depannya seekor anjing yang besar dan Was / galak. Pada saat itu, Canon melihat bahwa proses mencerna terhenti, seketika, dan pembuluh darah di bagian lambung mengkerut, di samping, itu tekanan darahnya bertambah dengan sangat tinggi, ditambah lagi dengan perubahan yang bermacam-macam pada kelenjar-kelenjar seperti bertambah dengan sangat tinggi, ditambah lagi dengan perubahan yang bermacam-macam pada kelenjar-kelenjar seperti bertambahnya keringat dan kekurangan air liur.

TABEL 1
JENIS-JENIS EMOSI DAN DAMPAKNYA PADA PERUBAHAN FISIK
JENIS EMOSI
PERUBAHAN FISIK
1.    Terpesona
1.    Reaksi elektris pada kulit
2.    Marah
2.    Peredaran darah bertambah cepat
3.    Terkejut
3.    Denyut jantung bertambah cepat
4.    Kecewa
4.    Bernapas panjang
5.    Sakit / marah
5.    Pupil mata membesar
6.    Takut / tegang
6.    Air liur mengering
7.    Takut
7.    Berdiri bulu roma
8.    Tegang
8.    Terganggu pencernaan, otot-otot menegang atau bergetar (tremor)
       Sumber : Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, hal. 116

D. PENGELOMPOKAN EMOSI
Emosi dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu emosi sensoris dan emosi kejiwaan (psikis)
1.    Emosi sensoris, yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar terhadap tubuh, seperti : rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang, dan lapar.
2.    Emosi psikis, yaitu emosi yang mempunyai alasan-alasan kejiwaan. Yang termasuk emosi ini, diantaranya adalah :
a) Perasaan Intelektual, yaitu yang mempunyai sangkut paut dengan ruang lingkup kebenaran. Perasaan ini diwujudkan dalam bentuk : (a) rasa yakin dan tidak yakin terhadap suatu hasil karya ilmiah, (b) rasa gembira karena mendapat suatu kebenaran, (c) rasa puas karena dapat m8nyelesaikan persoalan-persoalan ilmiah yang harus dipecahkan.
b) Perasaan Sosial, yaitu perasaan yang menyangkut hubungan dengan orang lain, baik bersifat perorangan maupun kelompok. Wujud perasaan ini seperti (a) rasa solidaritas, (b) persaudaraan, (c) simpati, (d) kasih sayang dan sebagainya.
c) Perasaan Susila, yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai baik dan buruk atau etika (moral). Contohnya, (a) rasa tanggungjawab (responsibility), (b) rasa bersalah apabila melanggar norma, (c) rasa tenteram dalam menaati norma.
d) Perasaan Keindahan (estetis), yaitu perasaan yang berkaitan erat dengan keindahan dari sesuatu, baik bersifat kebendaan maupun kerohanian.
e) Perasaan Ketuhanan. Salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Tuhan, dianugerahi fitrah (kemampuan atau perasaan) untuk mengenal Tuhannya. Dengan kata lain, manusia dikaruniai insting religius (naluri beragama). Karena memiliki fitrah ini, kemudian manusia dijuluki sebagai “Homo Religius”, yaitu sebagai makhluk yang berke-Tuhan-an atau makhluk beragama­


KONDISI YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN EMOSI
Sejumlah studi tentang emosi anak telah menyingkapkan bahwa perkembangan emosi mereka bergantung sekaligus pada faktor kematangan (maturation) dan faktor belajar, dan tidak semata-mata bergantung pada salah satunya. Reaksi emosional yang tidak muncul pada awal kehidupan tidak berarti tidak ada. Reaksi emosional itu mungkin akan muncul di kemudian hari, dengan adanya kematangan dan sistem endokrin.
Kematangan dan belajar berjalin erat satu sama lain dalam mempengaruhi perkembangan emosi sehingga pada saatnya akan sulit untuk menentukan dampak relatifnya. Bukti tentang peran yang memainkan faktor kematangan dan faktor belajar dalam perkembangan emosi disajikan dibawah ini.



1. Peran Kematangan
Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti, memperhatikan satu rangsangan dalam jangka waktu yang lebih lama, dan memutuskan ketegangan emosi pada satu obyek. Demikian pula, kemampuan mengingat dan menduga mempengaruhi reaksi emosional. Dengan demikian, anak-anak menjadi reaktif terhadap rangsangan yang tadinya tidak mempengaruhi mereka pada usia yang lebih muda.
Perkembangan kelenjar endokrin penting untuk mematangkan perilaku emosional. Bayi secara relatif kekurangan produksi endokrin yang diperlukan untuk menopang reaksi fisiologis terhadap stress. Kelenjar adrenalin yang memainkan peran utama pada emosi mengecil secara tajam segera setelah bayi lahir. Tidak lama kemudian kelenjar itu mulai membesar lagi, dan membesar dengan pesat- sampai anak berusia 5 tahun, pembesarannya melambat pada usia 5 sampai 11 tahun, dan membesar lebih pesat lagi sampai anak berusia 16 tahun, dan pada usia 16 tahun kelenjar tersebut mencapai kembali ukuran semula seperti pada saat anak lahir. Hanya sedikit adrenalin yang diproduksi dan dikeluarkan, sampai saat kelenjar itu membesar. Pengaruhnya penting terhadap keadaan emosional pada masa kanak-anak.

2. Peran Belajar
          Kegiatan belajar turut menunjang pola perkembangan emosi pada masa kanak-kanak. Terlepas dari metode yang digunakan, dari segi perkembangan anak harus siap untuk belajar sebelum tiba saatnya masa belajar. Sebagai contoh, bayi yang baru lahir tidak mampu mengekspresikan kemarahan kecuali dengan menangis. Dengan adanya pematangan sistem syaraf dan otot, anak-anak, mengembangkan potensi untuk berbagai macam reaksi. Pengalaman belajar mereka akan menentukan reaksi potensial mana yang akan mereka gunakan untuk menyatakan kemarahan.



Cara Belajar Yang Menunjang Perkembangan Emosi
a) Belajar Secara Coba dan Ralat
Belajar secara coba dan ralat (trial and error learning) terutama melibatkan aspek reaksi. Anak belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan pemuasan. Cara belajar ini lebih umum digunakan pada masa kanak-kanak awal dibandingkan dengan sesudahnya, tetapi tidak pernah ditinggalkan sama sekali.
b) Belajar dengan Cara Meniru
Belajar dengan cara meniru (learning by imitation) sekaligus mempengaruhi aspek rangsangan aspek reaksi. Dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi tertentu pada orang lain, anak-anak bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamati. Sebagai contoh, anak yang peribut mungkin menjadi marah terhadap tegoran guru. Jika ia seorang anak yang populer di kalangan teman sebayanya, mereka juga akan ikut marah seperti guru tersebut.
c) Belajar dengan cara mempersamakan diri
Pelajar dengan cara mempersamakan diri (learning by identification) sama dengan belajar menirukan yaitu anak menirukan reaksi emosional orang lain dan tergugah oleh rangsangan yang sama dengan rangsangan yang telah membangkitkan emosi orang yang ditiru. Metode ini berbeda dari metode menirukan dalam dua segi. Pertama, anak hanya menirukan orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya ; kedua ialah, motivasi untuk menirukan orang yang dikagumi lebih kuat dibandingkan dengan motivasi untuk menirukan sembarang orang.
d) Belajar Melalui Pengkondisian
Pengkondisian (conditioning) berarti belajar dengan cara asosiasi. Dalam metode ini obyek dan situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi emosional kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi. Metode ini berhubungan dengan aspek rangsangan, bukan dengan aspek reaksi. Pengkondisian terjadi dengan mudah dan cepat pada tahun-tahun awal kehidupan karena anak kecil kurang mampu menalar, kurang pengalaman untuk menilai situasi secara kritis, dan kurang mengenal betapa tidak rasionalnya reaksi mereka. Setelah lewatnya masa kanak-kanak awal, penggunaan metode pengkondisian semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak suka.
e)  Pelatihan
Pelatihan (training) atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan, terbatas pada aspek reaksi. Kepada anak diajarkan cara bereaksi yang dapat diterima jika sesuatu emosi terangsang. Dengan pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasanya membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak beraksi secara emosional terhadap rangsangan yang membangkitkan emosi yang tidak menyenangkan. Hal ini dilakukan dengan cara mengendalikan lingkungan apabila memungkinkan.

G. KECERDASAN EMOSIONAL (Emotional Intelligence)
Berdasarkan pengamatan, banyak orang yang gagal dalam hidupnya bukan karena kecerdasan intelektualnya rendah, namun karena mereka kurang memiliki kecerdasan emosional. Tidak sedikit orang yang sukses dalam hidupnya karena mereka memiliki kecerdasan emosional meskipun intelegensinya hanya pada tingkat rata -rata.
Kecerdasan emosional ini semakin perlu dipahami, dimiliki dan diperhatikan dalam pengembangannya karena mengingat kondisi kehidupan dewasa ini semakin kompleks. Kehidupan yang semakin kompleks ini memberikan dampak yang sangat buruk terhadap konstelasi kehidupan emosional individu. Dalam hal ini, Daniel Goleman mengemukakan hasil survei terhadap para orangtua dan guru yang hasilnya menunjukkan bahwa ada kecenderungan yang sama di seluruh dunia, yaitu generasi sekarang lebih banyak mengalami kesulitan emosional daripada generasi sebelumnya. Mereka lebih kesepian dan pemurung, dan kurang menghargai sopan santun, lebih gugup dan mudah cemas, lebih impulsif dan agresif.
Kecerdasan emosional ini merujuk kepada kemampuan-kemampuan mengendalikan diri, memotivasi diri dan berempati. Secara jelasnya unsur-unsur kecerdasan emosional ini dapat disimak pada :

Unsur-Unsur Kecerdasan Emosional

ASPEK
KARAKTERISTIK PERILAKU
1.  Kesadaran Diri
a) Mengenal dan merasakan emosi sendiri
b)  Memahami penyebab perasaan yang timbul
c) Mengenal pengaruh perasaan terhadap tindakan
2.  Mengelola Emosi
a) Bersikap toleran terhadap frustasi dan mampu mengelola amarah secara lebih baik
b)  Lebih mampu mengungkapkan amarah dengan tepat tanpa berkelahi
c) Dapat mengendalikan perilaku agresif yang merusak diri sendiri dan orang lain
d) Memiliki perasaan yang positif tentang diri sendiri, sekolah dan keluarga
e) Memiliki kemampuan untuk mengatasi ketegangan jiwa
f) dapat mengurangi perasaan kesepian dan cemas dalam pergaulan

3.  Memanfaatkan emosi secara produktif
a) Memiliki rasa tanggungjawab
b) Mampu memusatkan perhatian pada tugas yang dikerjakan
c) Mampu mengendalikan diri dan tidak bersifat implusif
4.  Empati
a) Mampu menerima sudut pandang orang lain
b) Memiliki sikap empati atau kepekaan terhadap perasaan orang lain
c) Mampu mendengarkan orang lain
5.  Membina hubungan
a) Memiliki pemahaman dan kemampuan untuk menganalisis hubungan dengan orang lain
b)  Dapat menyelesaikan konflik dengan orang lain
c) Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan orang lain

d)      Memiliki sikap bersahabat atau mudah bergaul dengan teman sebaya
e) Memiliki sikap tenggang rasa dan perhatian terhadap orang lain
f) Memperhatikan kepentingan  sosial (senang menolong orang lain) dan dapat hidup selaras dengan kelompok
g)  Bersikap senang berbagai rasa dan bekerja sama
h) Bersikap demokratis dalam bergaul dengan orang lain

H. METODE PENGEMBANGAN EMOSI
          Untuk membantu proses perkembangan emosi anak usia dini, seorang guru dapat melakukan beberapa metode pembelajaran berikut.

1.  Bernyanyi dan Bermain Musik
Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu dikelilingi oleh musik yang beraneka ragam. Musik itu bisa berasal dan suara alam, binatang atau manusia. Kehidupan manusia tidak bisa lepas dan pengaruh musik karena dalam diri manusia sendiri pun memiliki sumber musik, seperti pita suara ataupun degup jantung yang mirip, seperti suara drum band.
Musik memberikan dampak nyata pada perkembangan emosional manusia. Oleh karena - itu, bermain musik bagi anak sangat penting dan memberikan pengaruh yang cukup kuat dalam pengembangan emosinya. Mahmud (I995) mengatakan bahwa musik dapat menimbulkan rasa kesatuan dan persamaan, rasa kebangsaan, rasa keagamaan, rasa kagum, rasa gembira, dan sebagainya. Musik dapat memberikan kepuasan rohaniah dan jasmaniah. Manfaat musik yang lain diantaranya adalah mendorong gerak pikir dan rasa, membangkitkan kekuatan dalam jiwa dan membentuk watak. Musik menanamkan dalam jiwa manusia perasaan yang halus atau budi yang halus. Lebih lanjut Campbell (2001) mengatakan bahwa musik dapat mengangkat suasana jiwa seseorang karena melalui musik, kasih sayang serta doa di dalam diri seseorang dapat dibangkitkan. Musik merupakan salah satu instrumen atau media bagi seseorang untuk dapat merasakan kasih sayang, keagungan Ilahi, serta semesta alam, dan melakukan transformasi diri ke alam spiritual.
2.  Bermain Peran
Bermain peran adalah permainan yang dilakukan anak dengan cara memerankan., tokoh-tokoh, benda-benda, binatang ataupun tumbuhan yang ada di sekitar anak. Melalui permainan ini daya imajinasi, kreativitas, empati serta penghayatan anak dapat berkembang. Anak-anak dapat menjadi apa pun yang diinginkannya dan ia juga dapat melakukan manipulasi terhadap objek, seperti yang diharapkannya. Jika ia mengagumi ibunya, ia akan memerankan tokoh ibunya, seperti yang biasa ia lihat. Namun, sebaliknya jika ia tidak menyukai tokoh tertentu, ia tidak akan pernah menghadirkan tokoh tersebut dalam permainannya.. Kalaupun ia memerankannya maka ia akan mengubah karakter tokoh tersebut menjadi sosok seorang yang diinginkannya.
Dalam permainan ini anak dapat mengembangkan kemampuan sosial emosional. Anak dapat mengekspresikan berbagai macam emosinya tanpa takut, malu ataupun ditolak oleh lingkungannya. la juga dapat mengeluarkan emosinya yang terpendam karena tekanan sosial. Dalam bermain peran seorang anak dapat memainkan tokoh yang pemarah, baik hati, takut, penuh kasih, dan lain sebagainya. 
Dalam memahami drama anak-anak Harley (2000) mendefinisikan bermain peran sebagai berikut.
“Bermain peran adalah bentuk permainan bebas dari anak-anak yang masih muda. Adalah salah satu cara bagi mereka untuk menelusuri dunianya, dengan meniru tindakan dan karakter dari orang-orang yang berada di sekitarnya. Ini adalah ekspresi paling awal dari bentuk drama, namun tidak boleh disamakan dengan drama atau ditafsirkan sebagai penampilan. Drama peran adalah sangat sementara, hanya berlaku sesaat. Bisa berlangsung selama beberapa menit atau terus berlangsung untuk beberapa waktu. Bisa juga dimainkan berulang kali bila keterkaitan si anak cukup kuat, tetapi bila ini terjadi maka pengulangan tersebut bukanlah sebagai bentuk latihan. Melainkan adalah pengulangan pengalaman yang kreatif untuk kesenangan murni dalam melakukannya. la tidak memiliki awalan dan akhiran dan tidak memiliki perkembangan dalam arti drama”.

3.  Permainan Hand Puppet
Hand puppet atau permainan dengan menggunakan boneka tangan, merupakan salah satu permainan yang digemari anak-anak usia dini. Melalui permainan ini anak akan belajar berkomunikasi, berimajinasi, mengekspresikan perasaannya dan meningkatkan kepercayaan dirinya. Untuk melakukan permainan yang lebih menyenangkan anak membutuhkan kawan dalam melakukannya walaupun ada juga anak yang bermain sendiri dan berbicara sendiri memainkan boneka tangannya. Namun, sekalipun permainan dilakukan anak sendirian, itu pun tidak menjadi masalah selama anak tidak menolak teman-temannya. Dengan adanya manfaat yang cukup besar dalam mengekspresikan emosi, sebagian terapis telah menggunakan permainan hand puppet ini untuk terapi. Dengan permainan ini, anak-anak yang mengalami permasalahan emosional pun dapat terbantu.

4.  Latihan Relaksasi dam Meditasi dengan Musik
Berdasarkan basil penelitian yang dilakukannya, Rachmawati (1998) mengatakan bahwa proses relaksasi yang dilakukan pada anak, cukup efektif untuk latihan pengenalan emosi diri mereka sendiri atau terbentuknya keterampilan emotional awareness. Selain itu, aktivitas meditatif dengan musik dapat membantu proses katarsis, di mana individu mengeluarkan  emosi yang ditekan, menciptakan ketenangan, dan meningkatkan aktivitas pembelajaran pada anak­ proses pelaksanaannya cukup sederhana, guru hanya memilihkan musik lembut dan disukai anak dan meminta anak untuk mendengarkan dan hayatinya dengan saksama. Untuk membantu proses penghayatan, anak diminta untuk mengambil posisi yang paling nyaman, ia dapat duduk berbaring sambil memejamkan mata. Setelah proses mendengarkan lagu tadi, guru dapat melakukan wawancara, atau memberikan selembar kertas mengevaluasi apa yang anak rasakan selama ia mendengarkan lagu Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, jawaban anak sangat beragam, di antaranya ada yang merasa selalu takut, bosan, teringat kembali saat ditinggalkan ibunya ke luar negeri, dan lain sebagainya.

5.  Bercerita
Bercerita bagi seorang anak adalah sesuatu yang menyenangkan. Melalui cerita anak dapat mengembangkan imajinasinya menjadi apa pun yang dia inginkan. Dalam cerita seorang anak dapat memperoleh nilai yang banyak dan berarti bagi proses pembelajaran dan perkembangannya, termasuk di dalamnya perkembangan SOSIAL DAN EMOSIONALnya.

Selain melatih keterampilan membaca, bagi seorang anak bercerita merupakan suatu petualangan besar. A Great Adventure, sebagaimana yang dikemukakan Graves (dalam Solehuddin, 2000). Bercerita dapat juga berfungsi sebagai alat untuk mendukung proses pembelajaran berbagai ilmu pengetahuan dan nilai pada anak. Cerita tentang kura-kura dan kelinci, beauty and the beast, cerita tentang para nabi, orang baik dan orang jahat, bawang putih-bawang merah, dan sejenisnya merupakan contoh lain dari penggunaan cerita untuk menanamkan nilai-nilai pada anak.
Selanjutnya Solehuddin (2000) dan Hidayat (2003) mengemukakan bahwa aktivitas bercerita juga dapat berfungsi untuk membangun  hubungan yang erat dengan anak. Melalui bercerita, para pendidik dapat berinteraksi secara hangat dan akrab, terlebih jika mereka dapat menyelingi atau melengkapi cerita-cerita itu dengan unsur humor.

6.  Permainan Gerak dan Lagu
          Permainan gerak dan lagu merupakan aktivitas bermain musik sambil menari. Anak-anak sangat menyukai permainan ini terutama jika kita memodifikasi lagu-lagu yang diperdengarkan. Teknik pelaksanaannya sangat mudah, pertama kita dapat memutar musik klasik di awal kegiatan, anak-anak diminta bergerak bebas mengikuti alunan musik. Tiba-tiba musik kita matikan di tengah-tengah dan anak-anak pun berhenti bergerak dan berpura­-pura menjadi Patung. Langkah berikutnya kita putar lagu yang kedua dan jenis musik dangdut, dan anak pun bergerak bebas sesuai irama dangdut. Gerakan anak-anak tentu akan berbeda dengan lagu pertama tadi permainan dilanjutkan dengan pola tersebut. Semakin beraneka macam warna musik, kegiatan akan semakin menyenangkan, dan emosi anak semakin terekspresikan. Di akhir, kegiatan, anak dapat merasakan perasaan yang lega.

7.  Permainan Feeling Band
          Menurut Newcomb (1994) permainan feeling band atau band perasaan per-mainan membunyikan instrumen musik sesuai dengan ekspresi perasaan. Alat musik yang digunakan sebaiknya jenis perkusi sehingga anak dapat lebih mudah menggunakannya. Dalam permainan ini, guru berperan sebagai konduktor. la dapat meminta anak untuk membunyikan alat musiknya dengan ekspresi “marah”, “sedih”, “gembira”, dan lain sebagainya. Anak-anak akan mencoba memahami perasaan itu terlebih dahulu sebelum ia mengekspresikannya melalui alat musik yang dipegangnya. Dalam pelaksanaannya sangat mungkin ada anak yang mengalami kesulitan, namun karena kegiatan ini dilaksanakan secara berkelompok, ia akan belajar pada anak yang lain. Permainan ini sangat membantu anak untuk melakukan proses katarsis, menyadari perasaannya sendiri, dan bersenang-senang.

8.  Demonstrasi
Demonstrasi adalah kegiatan memberi contoh atau memperlihatkan secara langsung dalam melakukan suatu perbuatan atau perilaku. Dalam demonstrasi terkandung unsur showing; doing and telling, yaitu perlihatkan, lakukan, dan katakan sebagaimana yang dipaparkan Moeslichatoen (1999). Berkenaan dengan pengembangan emosi, pembelajaran emosi dilakukan dengan cara mendemonstrasikan atau mengekspresikan perasaan. Demonstrasi dapat dilakukan melalui kegiatan bercakap-cakap terlebih dahulu, kemudian anak diminta untuk mendemonstrasikan emosi yang diminta. Selain itu, bermain pantomim juga dapat dilakukan sebagai permainan untuk mendemonstrasikan ekspresi emosi anak. Contoh kegiatan lain, guru dapat pula meminta anak untuk mendemonstrasikan berbagai si emosi secara langsung. misalnya seorang guru mengajak anak-anak tertawa bersama-sama, kemudian menangis, marah, tersenyum, dan sebagainya. Tujuan penerapan metode ini adalah untuk katarsis atau mengeluarkan emosi yang ditekan, self awareness atau kesadaran terhadap diri sendiri serta pengenalan terhadap berbagai bentuk emosi. Dalam metode ini guru  juga dapat  menjelaskan harapan lingkungan dalam proses pengekspresian emosi, misalnya guru bertanya, bolehkah mereka melempar mainan, piring, dan gelas pada saat mereka marah. Guru, kemudian menjelaskan alasannya dan apa yang sebaiknya dapat mereka lakukan.

9.  Permainan Personifikasi
          Permainan personifikasi adalah permainan yang dilakukan dengan cara a gerakan binatang atau tumbuhan seolah-olah mereka hidup dengan cara hidup manusia. Dalam permainan ini anak dapat berpura-pura menjadi hujan, menjadi selembar daun yang terbang tertiup angin atau pohon yang tumbang. Permainan ini membutuhkan perasaan yang halus dari anak. Selain itu empati dan perhatian anak terhadap pola hidup makhluk lain juga dilatih. Melalui permainan ini, kepercayaan diri, kebebasan berekspresi, kreativitas, dan imajinasi anak ikut terkembangkan.

  10.   Permainan Tradisional
                   Permainan tradisional yang dilakukan anak-anak yaitu permainan daerah dengan bahan permainan sederhana (kerikil, pecahan genting, kulit buah, kayu, sabut kelapa, kelereng dll) mampu mematangkan emosi. Misalkan permainan angkle, anak-anak tiap menahan diri dengan menanti giliran dan siapa yang salah melempar gaco ia harus menerima bahwa ia salah / keluar dan berhenti sementara kegiatan permainan tersebut. Melalui kegiatan permainan tradisional anak-anak merasa senang, gembira dan matang menahan diri apabila kalah.


PERANAN GURU ANAK USIA DINI DALAM MENGEMBANGKAN EMOSI
          Perkembangan emosi yang sehat sangat membantu bagi keberhasilan anak belajar. Oleh karena itu, dalam rangka mengembangkan emosi anak yang sehat, guru-guru (anak usia dini) seyogyanya memberikan bimbingan kepada mereka, agar mereka dapat mengembangkan hal-hal berikut.
1.    Kemampuan untuk mengenal, menerima dan berbicara tentang perasaan-perasaannya.
2.    Menyadari bahwa ada hubungan antara emosi dengan tingkah laku sosial.
3.    Kemampuan untuk. menyalurkan keinginannya tanpa mengganggu perasaan orang lain.
4.    Kemampuan untuk perlu terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain.