Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 November 2015

Belajar Bagaimana Menyikapi Hidup

Pembelajaran hidup

Pembelajaran Hidup

Dalam kesempatan kali ini penulis ingin berbagi pengalaman hidup, untuk itu penulis minta maaf sebelumnya apabila pengalaman yang kudapatkan baik secara langsung atau mungkin dari cerita (curhatan) teman sama dengan pengalaman  anda, atau malah dari cerita ini terasa tidak ada yang bisa dipetik hikmahnya, tetapi kalau boleh usul lebih baik pembaca usaikan dulu cerita saya, perkara pantas atau tidak, boleh ditanggapi setelai usai membaca.
Dalam kehidupan ini so pasti , percaya  atau tidak percaya pasti ada halangan/ rintangan yang pernah dialami artinya perjalanan hidup tak selamanya berjalan mulus. Seperti pipi kita tak selamanya mulus suatu saat pasti akan nongol jerawat yang entah kenapa tiba- tiba muncul, padahal setiap hari kita bersihkan, setiap bulan selalu facial , tetapi tetap saja jerawat itu muncul entah kecil atau besar, entah satu atau lebih dari satu, dan itu semua cukup bahkan sangat mengganggu, penampilan jadi kurang menarik.
Kembali ke pengalaman hidup, ini tentang “AKU” dulu....... aku pernah dalam satu masa perjalanan hidup ada dalam titik nadir, benar – benar dalam titik nol, banyak teman yang meninggalkanku, bahkan saudarapun kalau aku datang untuk silahturahmi selalu sudah curiga lebih dulu, takut kalau aku bertamu akan pinjam uang atau sekedar minta makan, padahal dulu ketika aku jaya, teman lama , teman baru semua bila bertemu aku dari jauh sudah mengangguk memberi penghormatan lebih dulu  sambil tersenyum indah sekali, sedangkan saudaraku bila aku datang , semua pasti senang karena ada yang selalu kubawakan untuk mereka, oleh oleh (buah tangan). Tetapi semua berbalik 180 derajat ketika aku terjatuh. Tidak ada teman,tidak sahabat tidak juga  saudara, (bahkan ironisnya pernah kudengar langsung dari saudara jauhku yang mengatakan SAUDARA ITU ORANGNYA, KALAU UANG YAH TETAP UANG), yah aku hanya mampu mengelus dada, sabaar dan koreksi diri dan disaat semua orang meninggalkanku  hanya orang tua yang kasihnya tetap setia, dan memberi dukungan penuh, walau  dukungan itu mungkin tidak berupa materi tetapi bagiku itu yang terbaik karena orang tua telah kenyang makan asam garam sehingga pengalaman hidupnya bisa membuatnya tegar dan sekarang ingin ditularkan pada anak terkasihnya , dukungan orang tua itu namanya nasehat dan motivasi, yang tentu saja tidak bisa dibeli dengan uang.
Dan dari keterpurukannku itulah timbul semangat juang yang tak bisa kubendung, tentu ini bekal hidup yang dulu pernah ditanamkan orang tuaku waktu aku masih kecil dan sekarang   berkembang seiring usiaku, aku mengenyampingkan rasa “MALU dan GENGSI” yang menurutku akan menjadi penghalang kesuksesanku, dan aku tanamku di otakku, dipikiranku, dialiran darahku sampai seluruh tubuhku semua kuperintahkan untuk selalu mengatakan “AKU PASTI BISA BERUBAH”.
“Aku” memulai usaha jualan kecil –kecilan karena modal yang kupunya juga kecil,tetapi  tidak jalan karena memang aku tak berbakat untuk berniaga, lalu aku ganti setir aku memelihara ikan lele inipun gagal, aku memelihara ayam potong dan inipun gagal pula , tapi aku tidak menyerah. Suatu hari aku pernah ikut kerja kasar hanya untuk mendapatkan rupiah, untuk kelangsungan hidup keluarga, untuk sekolah anak , aku membantu suami, dan itu tidak cukup, kalau malam hari yang kami dapat hanya rasa capek luar biasa (makhlum aku dari kecil tidak pernah kerja fisik/berat).
Sampai suatu hari aku bertekad untuk mengajukan permohonan menjadi tenaga pendidik di lingkungan Perusahaan Besar /BUMN (walau saat itu banyak yang mencemooh tapi aku bertekad, bukankah aku diberi kesempatan orang tuaku untuk sekolah tinggi /kuliah untuk menjadi orang tangguh, bukan orang yang mudah menyerah, mindsetku harus beda dengan mereka yang mungkin kurang beruntung sehingga tidak mampu masuk perguruan tinggi ), sekolah yang dikelola oleh perusahan besar ,yang tentunya dapat ditebak bahwa sekolah itu  bukanlah sekolah biasa, karena yang sekolah disitu tentu anak – anak orang elite, ditambah untuk menjadi karyawan perusahaan BUMN tidaklah mudah prosedurnya karena milik negara. Tetapi aku percaya diri, aku langsung menghadap Direkturnya (yang biasa disebut Administratur/ADM)nya. Aku tunjukkan keahlianku, mulai dari kemampuanku dalam sempoa, bahasa inggris, bahkan gagasanku/pemikiranku untuk memajukan lembaga pendidikan agar dapat berkembang dengan baik. Dan hasilnya diluar duagaanku, hanya dengan modal interview yang kurang lebih 20 menit telah mengubah jalan hidupku,aku langsung  diterima , dan disitu aku diobservasi langsung oleh pimpinan BUMN, baik dalam kemampuan  mengelola kelas, kemampuan dalam mendekati siswa, kemampuanku menyampaikan materi , semua sangat membuat beliau berdecak kagum.
Untuk uji coba tidak membutuhkan waktu yang lama , hanya 1 bulan kemudian aku langsung diangkat menjadi kepala sekolah, dan kepala sekolah yang lama beserta gurunya langsung ditarik ke kantor untuk mengerjakan administrasi. Selanjutnya kelangsungan sekolah dipercayakan padaku, dan ini sungguh tidak mudah , kepercayaan yang sangat besar, dan inilah saatnya aku menunjukkan jati diriku yang sebenarnya. Terobosan – terobosan yang inovatif aku lakukan. Mulai dari memilih guru, sampai memformat sistem pengelolaannya semua dipercayakan padaku.
Dan sebagai orang yang dipercaya oleh perusahan besar, tentulah aku tidak boleh bermain – main,aku harus jujur, aku harus loyal, aku harus mempunyai visi dan misi yang tepat dan inovasi, dan itulah awal dari kesuksesan – kesuksesan ku selanjutnya yang menyertai hidupku. 1 tahun dalam kepemimpinaku sekolah  telah berkembang pesat, jumlah murid naik 200 %– 300 %, dan untuk menjadi siswa baru ditempatku harus sudah inden satu tahun sebelumnya, layanan pendidikan  berkualitas (baik dalam pembelajaran maupun sarana prasarana/ fasilitas) membuat pendaftar siswa baru tidak hanya dari kecamatan setempat bahkan lintas kecamatan, dan itu membuat bangga pimpinan, sampai – sampai aku diberi reward untuk keberhasilanku.
Aktivitasku selajutnya mulai kukembangkan, pagi aktif di sekolah, sorenya membuka layanan bimbingan belajar di rumah ,dan awal dibuka muridku sudah 30 orang dan setiap bulan meningkat jumlahnya. (kalau boleh jujur penghasilanku sebagai guru  di perusahan besar dengan pekerjaan sampinganku sebagai pembimbing di LBB pimpinanku tentunya lebih banyak yang pekerjaan sampinganku). Dan ketenaranku rupanya tidak berhenti sampai disitu, bahkan Dinas Pendidikanpun mulai melirik keberadaanku yang baru gabung 1 tahun, lalu aku langsung di percaya untuk menjadi duta Guru Prestasi mewakili kecamatan, dan aku persiapkan dengan matang sebagai bentuk tanggung jawabku atas kepercayaan Dinas Pendidikan, Alhamdulillah aku dapat juara I tingkat kabupaten dan berhak maju mewakili kabupaten ke tingkat propinsi, dan karena saat aku ikut seleksi aku sedang sakit maka aku tidak bisa memberikan yang terbaik untuk kabupatenku, tetapi aku masih bisa bernafas lega  bahwa paling tidak aku masuk 5 besar .
Tetapi “AKU” yang selalu punya semangat untuk maju, tak pernah puas dengan apa yang sudah kugenggam, terus ada yang bergelora dalam diriku. Hobbyku yang suka menulispun aku beri kesempatan berkembang, aku ikuti bermacam lomba, dan alhamdulillah selalu dapat nomer. Dan tidak itu saja , aku mulai menulis untuk dapat dikonsumsi orang umum, tulisanku akhirnya setiap bulan menghiasai lembar suatu majalah pendidikan binaan Dinas Propinsi Jatim, bahkan aku dua tahun berturut – turut menyabet predikat sebagi penulis terbaik, sehingga profilku dimuat di majalah tersebut. Aku bersama – sama dengan teman –temanku membuat LKS, dan LKS kamipun dipakai hampir semua TK sekabupaten.
Lain lagi dengan pengalaman temanku namanya sebut saja “ATIK” , dia yang kebetulan terlahir dari keluarga yang kurang mampu akhirnya sejak umur 9 tahun atau kelas III SD harus ngenger (ikut orang kaya untuk bekerja yang kemudian dia akan disekolahkan), sampai lulus SMA, lalu dia bergabung dengan suatu sekolah untuk menjadi guru, seiring dengan perjalanan waktu, dia akhirnya dinikahkan oleh orang tuanya dengan pilihan orang tua (menurut orang tuanya, calon suaminya anak orang yang cukup dalam ekonomi ,  pekerja keras, tapi hanya menyelesaikan sekolahnya sampai SMP).
Singkat cerita temanku “ATIK” akhirnya menikah dengan  pekerja keras itu, dan dari pernikahannya lahirnya gadis mungil, dan seiring waktu sebagai guru dia ingin menambah pengetahuannya, dan sama sang suami diberi ijin untuk kuliah lagi. Alhasil jadilah temanku mahasiswi yang dibiayai oleh suami dan mertua. Dan nasib baik berpihak padanya, dia terjaring jadi PNS. tentu saja dengan perubahan status maka   sedikit banyak  pasti akan merubah gaya / style seseorang baik dalam bergaul, berpenampilan maupun berkomunikasi, dan itu yang terjadi pada temanku. Perubahannya begitu drastis,dari pribadi yang sederhana jadi pribadi yang luar biasa banyak tuntutannya.
 cerita selanjutnya setelah dia menyelesaikan kuliahnya dan telah menjadi sarjana sekaligus menjadi PNS, di suatu sore yang indah , dia bersilahturami ke rumahku,dia berbagi cerita tepatnya sih curhat tentang perasaannya yang sudah tidak nyaman lagi dengan suami yang telah memberinya gadis mungil itu, dengan alasan kalau diajak komunikasi tidak nyambung, kalau diajak menghadiri undangan tidak level, karena dandanannya yang kampungan, dan masih banyak lagi kekurangan suami pekerja keras itu dimatanya.
Aku termangu – mangu mendengar ceritanya, lalu aku berusaha untuk bersikap bijaksana, aku netral, aku orang lain yang tidak membela suaminya atau temanku Atik. Lalu aku tanya kenapa baru sekarang perasaan tidak nyaman itu muncul ?, Kenapa baru sekarang setelah jadi sarjana dan menjadi PNS merasa tidak satu level dengannya?. Dulu ketika masih belum menjadi siapa – siapa kenapa nyaman – nyaman saja, ketika masih membutuhkan biaya baik untuk hidup atau untuk biaya kuliah kok nyambung – nyambung saja.
Akhirnya seiring waktu baru kutahu kalau temanku itu ternyata diam – diam telah menjalin hubungan terlarang dengan anak muda yang masih kuliah, yang tentunya umurnyapun dibawahnya. Dan setelah perceraiannya dengan sang pekerja keras dengan segera dia juga mengesahkan hubungannya dengan pemuda pilihannya dalam sebuah ikatan pernikahan. Lalu bahagiakah dia setelah berhasil mendepak mantan suami yang pekerja keras dan menikahi pemuda ganteng yang sama levelnya dengan dia, Jawabku (ENTAHLAH) karena aku tidak bisa menilainya , aku hanya mampu menonton , karena aku tidak punya kacamata yang dapat dipakai untuk menilai kehidupan seseorang.
Yang kutahu......sang mantan suami yang pekerja keras itu ternyata tidak hanya keras dalam bekerja tetapi juga keras dalam semangat merubah hidupnya, dan akhirnya buah dari “KEKERASAN” yang dipunyainya itu adalah benar – benar telah mengantarnya menjadi orang sukses, sukses dalam bisnis (dia menjadi pengusaha mebeler walaupun masih dalam scope kecil) dan  menjadi “KEPALA DESA”, untuk ukuran hidup di desa, kepala desa adalah jabatan prestise karena mempunyai wilayah dan warga yang dipimpin.Yah sang pekerja keras sekarang telah menjadi orang yang disegani dilingkungannya.
Sedangkan sang istri (ATIK) yang telah menceraikan suami yang pekerja keras itu   yang telah menikah dengan mahasiswa yang katanya lebih bermasa depan dan levelnya sama itu ternyata  suami barunya hanya foya – foya hidupnya, kuliahnya tidak selesai dan sukanya keluyuran tak jelas dengan teman – teman nongkrongnya, bahkan sikap terhadap anak tirinya juga tak baik karena menganggap saingan untuk mendapatkan uang saku dari sang istri, sehingga tidak salah kalau akhirnya sigadis mungil lebih memilih hidup bersama ayahnya yang telah menjadi orang sukses. Belum lagi sekarang temanku kena penyakit diabet , penyakit yang telah menggerogoti tubuhnya, dia yang dulu segar dan seksi sekarang layu, dan seakan jadi alasan tersendiri bagi suami mudanya untuk meninggalkannya. “Tragis” itu yang bisa kulihat dari kehidupan temanku.
Lain lagi dengan temanku si “ANI”, orangnya begitu santai dalam menjalani hidup, dia mempunyai prinsip seperti air mengalir, kata orang jawa kabeh wis ono sing gariske (hidup sudah digariskan Tuhan), mau bertingkah bagaimanapun kalau sudah digariskan seperti ini yah tidak bisa berubah. (aku hanya tersenyum ), sehingga kadang agak sulit untuk mengajak dia untuk berubah dalam segala hal, kadang dia ketinggalan berita bila harus berkumpul dengan teman – teman dalam acara rapat/ diskusi.
ANI selalu mengatakan padaku kata – kata yang sampai – sampai bisa kuhafal walau dengan tidur “dadi uwong kudu  nrimo ing pandom”, ben ora duwe masalah, ben iso urip tentrem, ben iso nikmati urip. Urip Cuma sepisan ora usah digawe ribet ( Jadi orang harus  menerima takdir, biar tidak punya masalah, biar bisa hidup tenang, biar bisa menikmati hidup, hidup Cuma satu kali tidak perlu dibuat susah).
Dan akupun termangu – mangu seperti ketika menerima curhatan ATIK beberapa bulan yang lalu, tetapi dalam hatiku ada yang menggelitik tak begitu saja bisa menerima nasehat sahabatku ini, walaupun sebagaian ada yang benar.
Yang benar memang kita tidak perlu membuat masalah dengan siapapun. Tetapi bukankah kita hidup selalu ada masalah entah ringan atau berat dan kita tidak bisa masa bodoh, kita harus bisa menyelesaikan dengan baik, karena dengan masalah itulah kita bisa lebih bijaksana dalam menyikapi hidup. Sedangkan untuk menerima takdir , yah kita harus bisa melihat takdir yang bagaimana dulu.Suatu contoh misalkan ATIK yang sudah digariskan menjadi guru TK dan tetap berpegangan teguh bahwa sampai pensiun bahkan sampai matipun dia akan tetap jadi guru TK, sehingga keinginan untuk maju, keinginan untuk belajar lebih baik lagi, bahkan untuk ikut seminar, workshop tidak mau, jawabannya selalu “untuk apa ?’.
Nah lho kalau seperti itu jelas aku tidak setuju, walaupun sudah digariskan sebagai guru TK, belajar masih tetap harus dilakukan, karena pendidikan selalu berubah mengikuti perkembangan jaman, tidak bisa kita berpegangan pada ilmu yang berapa puluh tahun yang lalu kita terima, mungkin pada saat itu memang ilmu kita yang terbaik, tetapi seiring perkembangan jaman, ilmu yang dulu kita dapatkan tidak lagi sesuai dengan kondisi anak – anak saat ini, dan perubahan itu wajib dilakukan kalau tidak mau tersisihkan, bahkan mungkin bisa saja kalau kita tetap pada pendirian tidak mau mengikuti perubahan yang ada, bisa – bisa takdir kita akan berubah tidak lagi menjadi guru TK tetapi jadi pegawai TU, karena kita tidak punya kompetensi yang diharapkan kurikulum (dan ini juga berlaku untuk profesi apapun).
Yang bisa diambil dari cerita ketiga tokoh diatas adalah. Sikap “AKU” yang tak mudah menyerah, sikap aku yang selalu berfikir positif  akan masalah yang dihadapinya ternyata mampu mengantarkannya menemukan jalan sukses. Sikap ATIK yang  lebih ingin  memenangkan nafsunya, dan disertai kesombongannya malah menjerumuskannya kedalam kehdupan yang lebih sulit.
Sedang suami ATIK, seorang pekerja keras yang telah mampu mengelola “dendam”nya dengan positif akhirnya malah dapat menunjukkan kehebatannya. Dia yang telah menerima penghinaan dari seorang istri yang tega meninggalkannya, ternyata tidak hanya diam menerima sakit hati, tetapi dari sakit hati karena penghinaan yang diterimanya, dia berusaha keras untuk dapat membalikkan keadaan, dan akhirnya dengan kerja kerasnya dia mampu menunjukkan “SIAPA” dia sebenarnya.
Lain lagi dengan “ANI” orang yang tidak punya inisiatif, yang menerima apa adanya garis hidup, yang  tidak ingin merubah mindset hidupnya kearah yang lebih baik, akhirnya juga kena akibatnya. Dengan berpegangan pada “GARIS” dia abaikan semuanya, bahkan untuk menjaga kesehatan hidupnya juga tidak dipedulikan. Prinsipnya kita harus menikmati hidup, sehingga makanan / minuman apa saja kalau menurutnya enak yah harus dimakan/minum  dan akibatnya diusianya yang masih muda dalam tubuhnya banyak penyakit yang menggerogotinya, mulai dari darah tinggi, asam urat, kolesterol, sampai ke penyakit yang berat yaitu ginjal. Dan ketika saya mencoba untuk mengatakan agar mengurangi makanan/ minuman yang tidak sehat, jawabnya tetap sama “ini sudah digariskan oleh Tuhan, kalau aku memang harus sakit”. Sekali lagi aku hanya bisa tercenung. Antara sedih dan bingung, entah mana yang benar. (nama telah disamarkan)
Teman – teman pembaca yang budiman, sungguh semua perjalanan hidup kita telah diatur oleh Allah, bahkan kata orang pintar  “jodoh, rizki dan maut itu rahasia Allah” . Tetapi sebagai manusia yang telah dilengkapi akal dan pikiran seharusnya kita bisa berfikir dengan sehat akan langkah – langkah kita, akan akibat – akibat yang akan menyertai, bukankah nafsu tidak selalu harus dimenangkan, kita harus bisa memilih mana nafsu yang bisa kita toleran mana nafsu yang harus kita lawan.
Sebagai pembaca yang budiman, marilah kita berfikir arif, tak perlu kita memvonis benar – salah seseorang, tetapi kita hanya bisa mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain, karena pembelajaran hidup tidak harus dari pengalaman kita ,tetapi bisa kita mengambil hikmah dan pelajaran dari pengalaman orang lain. Semoga ceritaku kali ini dapat bermakna dalam pelajaran hidup teman pembaca. Ambil sisi positifnya, tinggalkan sisi negatifnya.

Kamis, 07 Mei 2015

Maaf ....tentang perjodohan itu, lupakanlah Nak!!!



Bunda selalu dukung kamu nak.
Sore itu di ruang tengah terdengar percakapan suamiku dan anak wedoknya ( putri kami yang sulung), entah mengapa tiba – tiba saja suami bisa bicara serius begitu pada putriku, tidak seperti  biasanya. Karena yang aku tahu suami selalu penuh  guyon dengan ketiga putriku,  bahkan kalau aku sedang ada  komplain dengan mereka  ketiga putriku , selalu suami yang menengahi dengan guyonan pula.  Tapi  kelihatannya tidak untuk sore itu, Kupasang baik – baik telingaku sambil aku asyik mengetik meneruskan tulisanku ( he..he..he.. padahal  aku selalu ngajarin anak – anakku  untuk tidak nguping pembicaraan orang lain , eh ini malah aku yang nguping), he..he..he...sorry keadaan lagi darurat.(kataku dalam hati, minta dimakhlumi ).
‘mbak boleh gak ayah  tanya,  mana atau siapa sih  teman spesialmu?’, tanya Ayah memulai pembicaraan dengan serius.
‘maksudnya teman spesial  ?, semua temanku yang sering main kesini adalah teman spesial Yah ?,”, jawab putri sulungku tak mengerti arah pembicaraan Ayahnya.
‘ Hemz....begini  nduk, terus terang  Ayah ingin kamu sudah mulai memikirkan masa depanmu, kamu harus mulai fokus ingat  umurmu sudah 20 tahun, harusnya sudah punya komitmen dengan seseorang kan”.
‘hah...... harus?, yang bener donk  Yah , aku kan sudah punya prinsip dan sudah kusampaikan pada  Ayah  dan bunda, bahwa aku gak mau pacaran. Kalau sewaktu – waktu aku sudah ketemu orang yang klik aku inginnya  langsung menikah “.
Untuk sesaat obrolan terhenti, sepertinya suami lagi berfikir keras atau mulai belajar mencerna isi kalimat sulungku. Rasanya aku tak sabar dengan keheningan yang sesaat itu, sampai tanpa kusadari akupun ikut menghentikan  aktivitas mengetikku dan mulai memasang telinga dengan baik. Kalau  ada Adek ( sibungsu) pasti aku sudah dibilang KEPO (aku meringis sendiri malu...).
“tapi mengenal calon dengan lebih dekat itu juga perlu loh nduk , hemz......begini nduk  karena Ayah  melihat kamu belum punya teman yang spesial makanya  Ayah  ingin mengenalkan kamu dengan anaknya om Yoyok  teman Ayah , dia baru saja  selesai pendidikannya di kepolisian . Jo khawatir orange ganteng kok tur dhuwur, masa depane wis jelas,  Ayah  juga sudah kenal orang tuanya wis jelas bebet, bobot dan bibitnya, atau sama Helmy anak om Arman yang juga sudah lulus kuliahnya dari UGM ‘. Lanjut Ayah tanpa memberi kesempatan si sulung berargurmen
Aku kenal baik dengan keluarga mas Yoyok, dia adalah teman baik suamiku di SMA dulu, aku juga kenal baik dengan mas Arman karena beliu adalah teman kuliah dan teman satu kamar dikost yang sama semasa kuliah. Bahkan kalau boleh dibilang hubungan keluarga kami dengan mas Arman sangat dekat. Setiap hari raya Idhul Fitri kami selalu bergantian  saling mengunjungi bahkan ketika anak – anak masih kecil dulu kami sering habiskan waktu liburan dengan piknik bareng, karena kebetulan profesi kami sama yaitu GURU, kalau mas Yoyok keluarga dari Kepolisian, karena hampir semua  anak laki- lakinya polisi ( he..he..he.. bukankah  kedua anak mas Yoyok laki – laki semua yah)
Untuk sesaat aku dibuat terpana dengan ucapan suami.  Yang bener aja, masa sih anak dijodohin . ini kan masalah perasaan , masalah hati masa bisa sih diatur . walaupun kami kenal baik dengan beliau – beliau tapi kalau harus menjodohkan anak – anak kami, Hadew.......pikir – pikir dulu deh.  Belum sempat aku nimbrung , aku  sudah mendengar putri sulungku menjawab dengan bijaksana permintaan  Ayahnya  yang tidak biasanya itu.
‘maaf.....Ayah , bukannya aku nolak yah tapi  sebenarnya aku masih ingin ngejar impianku, aku masih ingin bisa mandiri dan aku merasa masih banyak yang belum aku lakukan. Tolong beri aku waktu untuk berfikir tapi kalau Cuma berkenalan yah gak apa- apa sih, untuk menjalin tali silahturahmi  Ayah  dengan om yoyok dan om  Arman. Aku dengan kak Helmy  kan juga sudah kenal  bahkan kami masih suka BBM an ’, jawabnya enteng
Sepertinya suami  tidak menyiapkan materi perjodohan dengan baik, karena dengan argumen dari  putri sulungku, suami tidak bisa berkutik. Atau malah jangan – jangan dia sudah ada strategi baru untuk menaklukan hati  putri sulung kami (pikiranku mulai curiga). Akhirnya pembicaraan tentang perjodohan sore itu tidak berlanjut sampai  final. Sulungku pamit mau masuk kamar tanpa bisa Ayahnya mencegah, yang kulihat Ayahnya hanya manggut – manggut saja. ( aku diam – diam gembira  melihat suami  tak bisa melancarkan serangan balik. Xi..xi..xi.. jahatnya siistri).
Malam itu ketika kulihat suami asyik melihat acara berita di Metro TV aku mendekat. Aku ingin mengulas tentang pembicaraan dengan materi perjodohan versi Ayah pada putrinya yang kelihatannya belum final tadi sore.
‘ waw.... sepertinya ada misi yang belum selesai nih”. Aku mencoba membuka obrolan ringan sambil duduk menjejerinya. Suami menoleh memandangku sekilas yang duduk disampingnya.
‘ iya.....Bareskrim harus mengatur strategi baru untuk bisa menangkap lebih tepatnya sih menjatuhkan Novel Baswedan”, jawab suami sambil matanya kembali menatap layar TV.
“Idih....bagaimana sih Ayah, maksud hati ingin membahas acara perjodohan eh kok malah membicarakan penangkapan dan pelepasan Novel Baswedan”  (gerutuku dalam hati. )
“kasihan KPK  orang – orang hebatnya satu persatu ditangkap dengan aneka tuduhan, semoga KPK tidak lumpuh karena kerja KPK terus terang telah kelihatan hasilnya  ketimbang kerja polisi sendiri yang sangat kelihatan masih tebang pilih dalam menangani kasus, malah kadang – kadang melakukan penangkapan juga sedikit ngawur ”. Ayah masih mencoba menerangkan situasi panas yang sedang terjafi di negeri tercinta ini.
‘ tenang Ayah....,  KPK tak akan lumpuh kok, dan Indonesia tak akan terpuruk  semua akan baik – baik saja, hanya memang kadang – kadang ulah wartawan saja yang bahasanya lebay dalam menyajikan berita, biasa agar pembaca atau penonton tertarik untuk mengikuti tulisannya”, jawabku diplomatis ( he..he..he... sepertinya mewakili suara hatiku, penulis memang bertugas menggiring pembaca untuk dapat menikmati tulisannya).
“ yakin sekali bun’. Jawab Ayah pendek
Aku menghela nafas panjang sebelum akhirnya kujawab pernyataan suami “ ya..... sangat yakinlah  seyakin – yakinnya mala, KPK kan didukung hampir seluruh rakyat Indonesia kecuali para koruptor tentunya, bukankah “power of the people is very great”, ah sudahlah mas (panggilan kesayanganku untuk suami) gak usah bahas negara, aku cuma mau tanya ada misi apa kok intrograsi anak gadismu sampai segitunya?”. Tanyaku memutus langsung
Suami mengernyit kaget “sepertinya bunda tadi sedang ngetik di kamar  kok dengar. nguping yah, atau sisulung sudah cerita?’, tanyanya kemudian heran.
‘yah anak – anak kan selalu terbuka sama bundanya, semua tidak ada yang disembunyikan, daripada dia cerita ke orang lain lebih baik kan cerita ke bundanya”, jawabku santai menahan senyum. ( he..he.. he.. padahal kan aku tadi nguping).
‘yah sudahlah.....beginiloh bun, aku Cuma heran saja sama putri sulung kita masa umur sudah 20 tahun kok masih betah menjomblo, penginku sih anak – anakku nanti paling lambat umur 24 tahun sudah berkeluarga, aku kira umur segitu sudah sangat pantas dan cukup dewasa”.
‘nah itu Ayah tahu, berarti umtuk anak sulung kita kan masih ada tenggang waktu 4 tahun, lalu kenapa Ayah jadi panik gitu main jodohin segala ?’, aku masih berusaha bersikap santai
‘bukan begitu bun, kemarin waktu reunian SMA aku ketemu sahabatku Yoyok, kamu kenal kan. Dia curhat untuk anak nomer duanya ini akan dicarikan jodoh, karena kemarin dia merasa kecolongan karena membiarkan anak pertamanya menikah dengan pilihannya sendiri, yang ternyata anak menantunya itu tidak berbakti sama sekali, bahkan parahnya suka mengadu domba antara dia dan anaknya. Makanya dia lalu ngajak aku untuk besanan. Bagaimana menurut bunda ?’. suamiku memandangi aku dengan penuh harapan agar akupun mengiyakan keinginannya dan keinginan sahabatnya.
Aku terdiam sesaat mencoba mencari kata yang pas, yang tidak menyakiti suami dan tidak menyinggung perasaan dan maksud baik mas Yoyok sahabat suami.
‘bagaimana bun ?, kok diam..., apa kita  jodohkan anak kita dengan anak  Arman, toh mereka sudah saling kenal dari kecil, dan pendidikan agama mereka juga bagus, Helmy saja dulu dari SD sampai SMP di pondok Gontor. Pasti kita tidak akan salah memilih menantu, dan persahabatan kita dengan Yoyok atau Arman makin sempurna kan”, suami mulai ngomporin aku lagi ketika aku terdiam cukup lama karena belum menemukan deretan kata yang tepat untuk menenangkan suami.
‘mas aku tanya , kenapa sih sepertinya kok ngebet banget pengin cari mantu, apa pengin cepet gendong cucu?’. Akhirnya Cuma kalimat itu yang keluar dari bibirku setelah aku belum juga bisa menemukan kalimat yang pas seperti  yang kuinginkan
 ‘begini loh bun, terus terang aku kepikiran dengan cerita Yoyok tentang mantunya itu loh. Aku tidak mau salah milih mantu juga, makanya aku akan seleksi pacar anak kita kalau perlu malah kita yang carikan suami buat mereka, kita bisa lihat pertama dari orang tuanya, pendidikannya, pergaulannya dan masa depannya. Karena kita telah mempersiapkan anak – anak kita dengan baik jangan sampai pasangannya nanti tidak baik. Mereka paling tidak harus bisa menjaga perasaan pasangannya, orang tua dan keluarganya dan mereka bisa kita titipi anak kita  nanti, gimana bun ? setuju kan”. Panjang lebar suami menerangkan kekhawatirannya.
Aku termangu – mangu mendengar uraian seorang Ayah yang begitu sayang (protect) pada anak gadisnya. Aku cukup dibuat terharu, tapi selanjutnya pikiran sehatku mulai bekerja.
“suamiku yang baik, terimakasih yah atas kasih sayang yang kau berikan pada keluarga kita, aku sebagai istri dan anak – anakmu pasti bangga denganmu. Tetapi lebih dari itu aku ingin memberikan pandangan juga untuk masa depan putri kita. Sungguh ....aku sedikit merasa keberatan bila kita harus terlalu ikut campur dalam urusan perjodohan ini. Aku ingin kita tidak intervensi mereka, kita  cukup hanya memberi nasehat, memberi pandangan dan contoh yang baik tentang sebuah “keluarga”, kita juga bekali ilmu agama yang cukup agar mereka  tahu tugas dan kewajiban seorang istri. Untuk  urusan JODOH biarlah mereka sedikit diberi keleluasaan untuk  bisa memilah dan memilih “. Aku akhirnya bisa menemukan kalimat yang tepat untuk berargumen
‘tenanglah mas, beberapa hari yang lalu aku sudah sempat ngobrol dengan putri sulung kita tentang calon suami yang baik untuknya, dan ternyata anak kita sudah cukup cerdas dan dewasa dalam menyikapi urusan hati. Dia ingin punya pasangan yang tidak hanya cakep dipermukaan tetapi lebih dari itu, yang utama adalah dia harus punya Value baik tentang kehidupan ataupun keagamaan. Dan untuk mas Yoyok yang ingin besanan dengan kita aku rasa usul putri kita cukup baiklah berkenalan dulu  saja  urusan nanti berjodoh atau tidak yang punya jawaban pasti hanya Tuhan, dan aku ingin perbincangan tentang perjodohan cukupilah sampai disini saja, jangan ganggu konsentrasi anakmu untuk selesaikan studynya, apalagi dia lagi punya proyek buat buku jadi mulai hari ini kita sepakat untuk selalu suport aktivitas positifnya”.  Kataku berusaha menenangkan suami.
“lagipula aku juga sudah sampaikan kok  persyaratan untuk bisa jadi calon mantuku pada ketiga putri cantikku dan mereka semua setuju”, aku masih berusaha menenangkannya
‘apa syaratnya, jangan banyak – banyak manusia tidak ada yang sempurna”, suami mulai terpancing dan mulai tenang
‘gak banyak syaratnya Cuma satu yaitu harus KAYA’. Jawabku enteng
‘hah.....gak salah ucap, kok bunda jadi matre sih”. Jawab suamiku dengan kekagetan tingkat tinggi. Aku menahan senyum dalam hatiku bersorak “kena lu”
‘ begini lo mas maksudku calon menantuku nanti harus Kaya agama (hati), kaya ilmu kalau perlu juga kaya harta (yang nomer 3 gak wajib sih). Kalau dia kaya agama parti akan dapat memanfaatkan ilmunya dan  hartanya dijalan Allah. Kalau dia kaya ilmu dia akan menjadi pribadi yang bertanggung jawab, dengan ilmunya dia bisa mencari harta yang halal untuk kelangsungan hidupnya dan keluarganya kelak. Bayangkan kalau dia kaya harta tapi tak berilmu apalagi beragama , maka hartanya akan habis tak berguna karena tidak punya ilmu untuk menyimpan apalagi mengembangkannya, dia tak bisa memanfaatkan hartanya dengan benar bisa – bisa malah dia hidupnya akan terjerumus. Tetapi kalau dia kaya ilmu dan agama (walau tak kaya harta) dia pasti masih banyak bisa berbuat untuk berkarir dengan bagus dengan jujur dan cara yang halal itu maksudku mas”, kataku mesra sambil memberikan senyum termanisku.
‘wah bunda memang keren, baiklah bun marilah kita lupakan tentang perjodohan itu, kita suport anak – anak kita dengan aktivitas positifnya, dengan impiannya dan cita – citanya.
Akhirnya malam itu kami tutup obrolan kami dengan kesepakatan yang manis. Dan untuk ketiga putriku teruama untu sulungku  , kamu tenang – tenang saja sayang, ayah dan bunda tak akan menjodohkanmu, lanjutkan keinginanmu yang ingin mengisi masa mudamu dengan prestasi dan kegiatan positifmu’. Aku tersenyum dalam tidur malamku. Akhirnya satu lagi  kami bisa memberi contoh yang baik pada anak – anakku bagaimana berkomunikasi yang sehat dengan pasangan, tanpa harus merendahkan atau meninggikan.
Medio awal mei 2015
Catatan niniingsuratiniingsih

Senin, 02 Maret 2015

Senua Berawal Dari Ketulusan Hati



Subhanalah setelah lebih dari   hampir 20  tahun  pertemuan luar biasaku dengan salah satu muridku TK di surabaya. Seorang dokter dengan penampilan yang luar biasa yang baru saja  menjadi seorang pembicara  disebuah seminar  kesehatan dihotel  satelit tiba – tiba datang menghampiriku yang saat itu  sedang chek in . dengan sikapnya yang sopan pak dokter ganteng itu bertanya
“maaf apakah ibu seorang guru TK?’,
‘benar, ada apa yah pak”.jawabku memberi penghoramatan dengan sebutan “pak”  atas kehebatannya sebagai seorang dokter sekaligus sebagai nara sumber
‘apakah ibu pernah mengajar di TK MIMI ?’, pak dokter keren itu masih bertanya
‘benar’, kataku sambil mengangguk tak mengerti sekaligus diliputi seribu pertanyaan yang menyesak
Dan tiba – tiba saja pak dokter keren , yang berdasi  dan  dihormati  tersebut langsung mengajak bersalaman , dan mencium tanganku dengan penuh hormatnya
‘apakah mam nining lupa, saya Billy mam murid mam nining ?, (Mam adalah panggilan / sebutan untuk ibu guru disekolahku  ).
Sejenak aku terperangah, merasa takjub dengan apa yang baru saja kualami. Bagaimana mungkin seorang dokter  ganteng , yang begitu parlente dan hebat ini  tiba – tiba datang dan mencium tangan keriputku, dan ditengah ketakjubanku dokter Billy masih dengan penuh hormat merangkulku mengajak untuk duduk di lobby hotel, untuk bernostalgia dengan  mengenang segala  kecengengannya  dimasa duduk dibangku TK. Bahkan ketika sopirnya mengganggu untuk memberi tahu  bahwa mobilnya sudah siap , diapun memberi isyarat dengan mengibaskan tangannya untuk meninggalkannya berdua denganku. Aku mendengar semua ceritanya dengan tanpa berkedip menatap mukanya, yang ternyata tidak ada satupun yang tersisa dari   Billy  kecil kecuali matanya yang sipit dari dulu selebihnya Billy telah menjelma menjadi seorang  yang baru. semua sudah berubah pantas bila aku tak mengenalnya.  Disaat aku minta ijin untuk menyelesaikan administraskui dia tetap  setia menungguku dan ketika kami melanjutkan obrolan yang terputus tadi  dia memberi tahu bahwa maminya titip salam buatku, rupanya saat ketika  kutinggal tadi dia BBM  an dengan maminya.
‘ maaf Billy kok kamu  masih ingat dengan ibu yah, padahal ibu kan sudah berubah jadi gembrot”, candaku
‘saya tak akan pernah melupakan pada orang yang telah berjasa menanamkan semangat dalam hidup saya, Mam nining yang selalu memotivasi saya, dan selalu menguatkan hati  dan menghapus air mata saya ketika saya sedang menangis habis dibully teman – teman. Mam nining  juga yang selalu bisa meredahkan kemarahan saya ,’ kata Billy sambil tersenyum
Aku sungguh sangat terharu dan tidak percaya  bagaimana tidak ?, ada seorang anak yang bisa menghargai gurunya sedemikian besar.  dan diakhir pertemuan kami doketr Billy minta alamat rumah dan nomer telepon,.
Dan ketakjubanku  semakin membuncah, ketika kemarin  pas hari sabtu pulang dari workshop diLawang Malang. Aku memakai jasa travel Kartika Sari bertiga dengan temanku bu Har dan Bu Ria duduk ditengah . Perjalanan baru juga nyampai di pabrik bentoel temanku bu Ria sudah mabuk , aku yang kasihan dengan kondisi bu Ria yang tak berdaya itu minta tolong pada pak Sopir agar bisa duduik didepan dekatnya  yang kebetulan sedang kosong , tetapi pak Sopir menolak karena kursi depan sudah dipesan sama Boss pemilik Hotel Pondok Permai Jatim Park 1 akhirnya aku hanya bisa menghibur bu Ria agar sabar. Sampai Pom Bensin ada penumpang lagi tambah 3 dan duduk dibelakang. Lalu travelpun melanjutkan perjalanan sampai Hotel yang dimaksud  terlihat seorang pemuda tanggung dengan penampilan sederhana tapi kelihatan sekali kalau terhormat karena ketika dia mau meninggalkan hotel beberapa karyawannya mengangguk dan satpam dengan segera membukakan pintu mobil didepan tak kalah cekatan pak sopir langsung menerima tas bawaannya (ransel). Dan sebelum masuk mobil rupanya  pak sopir memberi tahu bahwa ada penumpang yang lemas karena mabuk  minta oper duduk didepan, dan rupanya dengan besar hati sang Boss mempersilahkannya, dan otomatis sang Boss pun pindah duduk berhimpit denganku ditengah.
Dalam perjalanan tak ada yang istimewa karena aku tertidur, begitupun dengan temanku bu Har yang duduk disampingku dekat jendela juga tertidur. Sampai RM Barokah mobil travel berhenti memberi kesempatan pada penumpang untuk istirahat atau makan. Kulihat pak Boss juga turun, aku sebetulnya malas karena perutku masih kenyang, tetapi karena melihat bu Ria yang lemas akhirnya aku menemani bu Ria dan bu Har makan, aku hanya memesan teh panas untuk  sekedar menghangatkan badan.
Selesai istirahat pak sopir mengajak kami untuk melanjutkan perjalanan. Penumpang dibelakang asyik bercerita . untuk memecah keheningan akupun basa basi bertanya pada pak Boss disampingku.
‘tujuan mana mas?’.
‘ngariboyo bu, kalau ibu sendiri  ’, jawabnya sopan sambil tersenyum
‘takeran , kok  naik travel  mas biasanya anak muda sukanya naik motor atau bawa mobil sendiri”.
‘tidak boleh istri bu”.
‘wah  pintar istrinya mas, biar njenengan bisa istirahat”.
‘maaf apa ibu asli magetan yah”, tanya pak Boss
‘bukan mas, aku asli surabaya kebetulan menikah dengan orang magetan, jadi yah ikut jago”. Jawabku sambil mencoba melucu
‘sama bu saya juga asli surabaya dan dapat jodoh orang magetan juga , ibu surabayanya dimana yah?’.
‘aku dipakis, kalau masnya dimana ?’.
‘digubeng”.
‘sama setasiun gubeng ?’.
‘saya gubengnya di jalan Bali bu”.
Aku termangu- mangu  sambil mengingat letak jalan Bali. (makhlum sudah tua , ingat – ingat lupa).
“ibu dulu juga pernah berdinas didaerah gubeng tepatnya dijalan sumatra, ibu jadi kepala TK Kartika, kira – kira tahun 1996 sampai tahun 2001”, aku mulai bercerita  ketika bisa mengingat letak jalan Bali yang tidak jauh dengan jln sumatra tempat sekolahku dulu
‘ oh yah.....,maaf bu saya dulu juga murud TK Kartika loh , kalau tidak salah apakan ibu itu bu nining  yah  ?’, tanyanya hati – hati dengan masih sopan
Aku tercenung kaget, bagaimana dia masih ingat dengan bu Nining  guru TK yang sudah dilewati waktu lebih kurang 18 tahun yang lalu, pikirku dengan heran
‘benar mas aku bu nining, terus jenengan siapa yah ?  maaf loh kalau lupa  ibu  kan sudah tua ’, aku masih bertanya karena belum bisa menebak sosoknya.
Dia tersenyum dan menggapai tanganku , dia mencium tangan keriputku dengan penuh haru.
‘saya adalah murid bu nining yang selalu bawa dot ke sekolah dan saya yang selalu minta antar mama untuk main kerumah bu nining  , rumah saya dijalan bali bu ”.
‘apa yang punya POM bensin di jl A. Yani, apakah kamu taufiq”. Tanya saya dengan gembira karena berhasil menebak siapa pak Boss yang duduk disampingku.
Taufiq mengangguk, diapun membiarkan ketika badannya kurengkuh untuk kupeluk. Ada perasaan haru yang luar biasa yang menyesak didada
‘bu Nining saya pernah mencari ibu di TK Kartika tapi TK kartika sudah tutup lalu saya mencari ibu ke pakis tapi juga tidak ketemu, katanya bu nining sudah pindah”.
‘oh yah  , ada apa mas kok sampai mencari  ibu ? ”, tanyaku dengan masih penuh haru
‘disuruh mama untuk pamitan karena rumah di jalan Bali dijual lalu kami sekeluarga pindah ke malang di jalan sukarno Hatta’.
Yah Allah apakah begitu berharganya gurumu ini nak, sampai kamu harus mencari – cari bu guru tanyaku dalam hati dengan perasaan haru yang membuncah, sekali lagi kuraih tubuh jangkungnya untuk kupeluk.
‘oh yah putranya bu nining berapa?’, tanyanya  kemudian setelah kulepas pelukan sayang seorang guru pada muridnya
‘tiga mas putri semua”, kataku
‘kalau cucunya sudah berapa bu ?”.
‘belum punya mas, karena putri bu nining masih menempuh pendidikan semua, biarkan mereka menyelesaikan pendidikannya dulu”.
‘cucunya bu nining  sudah satu, dari saya, kemarin istri saya baru melahirkan bu ”. kata taufiq lembut
Sekali lagi aku dibuat terpana dengan ucapannya. Om my God......pak Boss ini telah menganggapku seperti  ibunya  sendiri sampai – sampai anaknya juga dia bilang cucuku. Terimakasih Tuhan atas karunia ini
‘ iya yah..cucu bu nining satu terimakasih yah mas  kamu masih mengingat bu nining”, kataku tak bisa menutupi perasaan haruku
Dan didalam mobil APV itupun terjadi obrolan yang seru  saur manuk (saling bersahutan)  diantara para penumpang melihat pertemuanku dengan murid TK ku yang telah terpisah18 tahun. Mereka semua ikut gembira
‘saya tidak akan pernah melupakan bu nining, karena selama tiga tahun bu nining telah membimbing saya dengan ketulusan yang luar biasa, dan itu masih tergambar jelas diingatan saya”. Kata pak Boss
Mendengar pengakuannya pengin rasanya aku menangis, tapi aku tak mau cengeng. Temanku bu Har pun akhirnya  ikutan berkomentar “wah senang yah bu nining punya murid yang begitu sayang pada ibu gurunya, padahal biasanya guru TK itu hanya dipandang sebelah mata karena dianggap tidak punya andil apa – apa dalam kesuksesan seorang anak”.
Dari kejadian yang kualami tersebut dengan selang waktu yang hampir berdekatan, aku  hanya mampu mengucapkan rasa syukur yang tak terhingga. Ada terselip rasa kebanggaan yang luar biasa dihatiku ketika menyaksikan muridku ternyata telah menjadi orang yang sukses dibidangnya masing – masing , tetapi kebangganku bukan  hanya karena kesuksesannya menjadi dokter, motivator, pengusaha ataupun profesi lainnya, karena menurutku sebuah kesuksesan karir  semua orang akan bisa mendapatkannya kalau diberi  kesempatan , kemampuan dan keahlian/kepandaian. Tetapi kebanggaaku lebih dari itu. Sebagai seorang guru TK  aku bangga dan salut karena  karakter yang kuat yang dimiliki dan telah ditunjukan oleh   Billy dan Taufiq.
Meskipun mereka telah menjadi orang sukses dalam karirnya, mereka  masih menyimpan rasa empati dan simpati. Mereka masih bisa menghargai orang lain dan menghormatiinya dengan tulus pula.
Seandainya semua anak muda mempunyai karakter yang posistif seperti Billy dan Taufiq, maka Indonesia jaya pasti bisa diwujudkan . tidak akan ditemui pelajar yang tawuran , tidak akan ditemui pemuda yang tegah menganiaya orang tuanya, tidak akan ditemukan maling - maling cilik yang menggaggu keamanan, tidak ada lagi para pecandu yang tak tahu arah, Karena anak yang mempunyai karakter yang positif (positive thinking dan positive feel), anak yang bisa menghormati orang tua dan gurunya akan takut untuk melakukan perbuatan yang akan membuat kecewa orang tuanya maupun gurunya, sebaliknya mereka akan berusaha untuk mengukir prestasi yang nantinya bisa membuat orang tuanya maupun gurunya merasa bangga.
Doaku selalu semoga semua muridku baik yang sekarang masih duduk dibangku kuliah (mahasiswa), atau yang sedang jadi pelajar (SMA/SMK/SMP. Atau SD)  semoga diberi kemampuan untuk jadi pribadi yang unggul, jadi pribadi yang tangguh. Tidak hanya unggul dalam bidang akademik saja tetapi juga unggul dalam bidang  sosial, norma dan agama sehingga nantinya  tidak hanya bisa menjadi kebanggaan orang tua dan gurunya saja tetapi akan mampu menjadi  kebangaan bangsa dan negaranya. Aamiin.
Catatan Nining diaawal bulan maret 2015

Minggu, 16 November 2014

NASEHAT SEORANG IBU UNTUK SAHABATNYA



NASEHAT SEORANG IBU UNTUK SAHABATNYA

Cerita ini kumulai ketika sore itu aku kedatangan tamu, sahabat lamaku sekaligus sahabat baikku. Betapa senangnya aku ketika bisa bertemu dengannya kembali setelah lebih dari 15 tahun tak bertemu. Dia masih cantik, ramah dan ramai, Cuma badannya agak kurusan menurutku (atau memang aku yang terbiasa melihat bentuk tubuhku yang gendut ini ) jadi ketika melihat orang ramping selalu kubilang kurus. He..he..he...
Kami cerita ......pertama tentang keluarga masing – masing, sama dengan dia yang bangga dengan kedua putranya, akupun bangga cerita tentang ketiga putriku yang cantik – cantik. Setelah puas cerita tentang keluarga tanpa kami sadari kami sudah berbelok arah cerita tentang pekerjaan, kebetulan profesi kami sama GURU, tetapi kalau temanku bersuamikan seorang tentara kalau aku bersuamikan seorang GURU juga.
Cerita kami mulai dari kurikulum 2013, yang katanya bikin puyeng sampai TPP (tunjangan profesi pendidikan./sertifikasi) yang belum cair 3 bulan, sedangkan yang carry over 5 bulan tahun yang lalu juga tidak ada kabar beritanya. (o yah walaupun profesi kami sama GURU, tetapi untuk tunjangan sertifikasi kami berbeda) karena kebetulan temanku masih GTY (non PNS) sedangkan aku yang kebetulan sudah PNS jelas untuk pencairan tunjangan sertifikasi alhamdulillah lancar – lancar saja.
Selanjutnya cerita berkembang kepersiapan masa depan, pada sesion ini  dengan hati – hati sekali tiba – tiba dia mulai bercerita tentang nasib naasnya, karena telah kehilangan ratusan  juta rupiah untuk mempersiapkan masa depan anaknya. ‘Loh kok bisa’ , pikirku dalam hati. Aku mulai penasaran dan tertarik dengan cerita sedihnya itu. Dan diapun mulai menceritakan pengalaman sedihnya.
Kejadian itu berawal dari keinginan dia sebagai orang tua yang ingin melihat anaknya mapan, maka dari itu setelah anaknya selesai /lulus dar SMTA  karena anaknya laki – laki dipersiapkan untuk menjadi seorang abdi negara pilihan pertama menjadi POLISI. Pikirnya daripada kuliah lulus kuliah juga cari kerja susah, kalau mau dapat pekerjaan juga harus bayar, sama – sama mengeluarkan uang, lebih baik gak usah kuliah tapi langsung test di SECABA. Dengan modal SK suaminya dan tabungan sertifikasinya selama 2 tahun akhirnya terkumpullah uang 160.000.000 (seratus enam puluh juta rupiah).
Kebetulan chanel yang akan meloloskan anaknya termasuk orang yang berpengaruh alhasil dilepaskanlah uang 100.000.000, yang 60.000.000 sengaja dia simpan untuk pembayaran akhir ketika anaknya sudah dinyatakan LOLOS , yang diikuti pertama pemeriksaan administrasi awal lolos, lanjut pemeriksaan tahapan kesehatan awal lolos , pemeriksaan dan pengujian psikhologi tidak lolos. Ketika dinyatakan tidak lolos temanku mendatangi orang yang bertanggung jawab akan kelolosan putranya untuk minta uangnya kembali, tetapi dengan dalih uang sudah diedarkan pada petugas jadi uang gak bisa kembali penuh, dan uang akhirnya hanya bisa kembali 20.000.000. Jadi yang hilang 80.000.000.
Penderitaan temanku tidak hanya sampai disitu ternyata, dua tahun setelah kegagalannya untuk menjadi POLISI , akhirnya putranya bekerja di showroom mobil, dan didorong rasa sayang yang amat sangat akhirnya temanku bermaksud memberi hadiah pernikahan anaknya sebuah rumah. Dengan bekal uang yang masih sisa ditabungan akhirnya dia mengambil perumahan , rumah type 34. Karena dia tidak mau terbebani utang maka langsung dibayar tunai , waktu itu masih 115.000.000. dan ternyata ketidakberuntungan itu masih setia pada temanku, setelah dibayar tunai ditunggu sampai 1 tahun pihak pengembang tidak segera membangun, dan ternyata pihak pengembang mengalami kebrangkutan, temanku dan beberapa orang yang nasibnya sama bermaksud untuk menjual tanah kavlingan yang sudah terbeli dengan memasang iklan, rupanya banyak yang tertarik untuk membelinya ini terbukti banyaknya telepon yang masuk untuk sekedar tanya atau ada juga yang langsung nego, tetapi ketika sudah ada kesepakatan dengan pembeli ternyata sertifikat tanah tidak ada.
Selanjutnya cerita tentang putranya yang kedua , berbekal pengalaman dari putranya yang pertama, maka anak yang nomer dua diarahkan untuk kuliah di keguruan, katanya masa depan guru sekarang ceriah karena ada tunjangan sertifikasi. Padahal anaknya ingin sekali kuliah HUKUM, tetapi temanku melarang. Katanya sarjana hukum sudah banyak. Alhasil putra keduapun dapat menyelesaikan kuliahnya dengan tepat waktu. Dan akhirnya diapun dititipkan untuk magang DI SDN..., dan satu tahun kemudian ada penerimaan CPNS, rupanya temanku belum kapok juga untuk mengikutkan putranya untuk menjadi CPNS dengan jalan pintas. Dengan iming 2 dari perangkat desa yang sudah terkenal dapat meloloskan CPNS diapun mempercayakan putranya untuk bisa lolos jadi CPNS, dan harga yang disepakai 150.000.000 karena sarjana yang nantinya golongan ruangnya langsung IIIA.
Apa yang dilakukan temanku, diapun menyetujui dengan pembayaran dimuka 100.000.000 dan sisahnya yang 50.000.000 dibayar belakangan setelah lolos.setelah kesepakatan dengan modal kepercayaan akhirnya tanpa perjanjian hitam diatas putih uang 100.000.000 beralih tangan.tiga bulan, 6 bulan berganti 1 tahun SK CPNS yang ditunggu tak kunjung datang alias kali inipun putra temanku gagal, dan  nasib uang yang 100.000.000 hanya Tuhan yang tahu.
Kubelai tangan temanku  yang mulai keriput, kupandang wajahnya yang masih ayu walau jelas tak bisa dibohongi wajah ayu itu begitu lelah, dan terlihat 5 tahun lebih tua dibanding umurnya. Apalagi sekarang suaminya juga terkena sakit jantung, lengkap sudah penderitaan seorang ibu yang begitu peduli, begitu sayang dan ingin protect anaknya dengan sekuat tenaga dan kemampuannya.
Aku menghela nafas panjang. Sebetulnya aku tak sanggup memberikan nasihat pada temanku, selain umur kami yang sama juga karena semuanya toh sudah berlalu, uang yang terbuang percuma sekian ratus juta tak kan kembali, ibarat kata NASI SUDAH MENJADI BUBUR. Tetapi sebagai sharing tak apalah kalau aku bercerita tentang bagaimana ku mempersiapkan masa depan anakkua.
Teman.....aku percaya semua orang tua akan sayang pada anaknya, tetapi mungkin bagaimana mengungkapkan rasa sayang itu yang berbeda, antara aku dan kamu, antara aku dan teman – teman ku yang lainnya.diantaranya :
1.       Ada orang tua yang ingin melayani anaknya seoptimal mungkin , sampai anaknya merasa tak sanggup lagi berdiri bila tidak dibantu orang tuanya (anak yang tergantung pada orang tua dan masa bodoh dengan hidupnya).
2.      Ada orang tua yang super protection pada anaknya akhirnya semua kebutuhan anaknya sampai kelak  dewasa sudah disiapkan , sampai sang anak tak tahu lagi bagaimana cara menjaga harta yangb telah dipersiapkan orangtuanya itu, karena anak tak pernah belajar bagaimana cara mencari materi / harta itu.
3.      Ada orang tua yang otoriter seperti gaya militer, semua harus menurut apa kata orang tua, mulai dari sekolah sampai jenis pekerjaan, sampai sang anak tak tahu lagi harus bagaimana menyelesaikan masalah yan g tidak dikuasainya, karena semua yang dilakukan berdasarkan perintah orang tuanya, bukan dari hati dan keinginannya.

Wah.... sepertinya enak yah mempunyai orang tua yang mempunyai tipikal diatas, dijamin kehidupan anaknya akan bahagia, akan terjamin masa depannya, tak perlu bersusah payah semua sudah disiapkan, tapi benarkah seperti itu ?!........(silahkan dipikir sendiri)
            Teman – temanku yang baik, mungkin dikarenakan kami adalah keluarga yang sederhana , jadi kami tak bisa memaksakan diri untuk menjadi orang tua yang super protectiv atau orang tua yang tipe melayani anak, kami (aku dan suami) lebih suka menyayangi anak – anak kami dengan cara yang bersahabat, demokrasi dan membimbing.
            Selalu aku tanamkan pada ketiga anakku (walau mereka semua putri) bahwa hidup adalah perjuangan, bahwa hidup adalah usaha, bahwa hidup adalah berbuat, tidak hanya menanti belas kasihan, tidak hanya menantikan pembagian warisan, tidak hanya menunggu keajaiban.
            Dan selalu kukatakan pada ketiga putriku, isilah hidupmu dengan prestasi yang benar – benar prestasi, walaupun itu kecil. Bukan prestasi karena karena dikondisikan, bukan prestasi karena dititipkan, bukan prestasi karena didukung orang tua dan bukan prestasi semu, prestasi yang tidak kamu peroleh dari hasil kerja kerasmu, karena itu tidak akan menimbulkan kebanggaan pada diri.
            Yang tak lupa juga aku tanamkan pada ketiga putriku bahwa kami tak bisa mewariskan harta , kami hanya mampu  membekali kamu ilmu agama dan ilmu pengetahuan dan kami juga hanya mampu mewariskan semangat untuk berjuang dan sikap yang jujur, jujur dalam bicara, jujur dalam bertindak, jujur dalam bersikap serta belajarlah untuk FOKUS.
            Fokus itu kunci untuk meraih kesuksesan, setelah kamu bisa mengenali hobbymu atau bakatmu maka fokuslah untuk menekuninya, Insya Allah akan menghasilkan sesuatu yang berharga. Mungkin kalau kamu bisa mengelolanya dengan baik tidak menutup kemungkinan kesuksesan akan tergenggam ditangan.
            Kalian tidak harus menjadi seperti bunda dan Ayah, jadilah dirimu sendiri dan bunda akan mengantarmu dengan sepenuh hati dengan diiringi doa, niscahya kamu akan menjadi “SOMEONE”  dan ditambah dengan fokus dalam menekuni bidangmu itu niscahya apa yang kamu kerjakan akan menjadi “SOMETHING”, bukannya kami tak ingin kamu jadi PNS, bukan sayang , kamu boleh jadi PNS, boleh jadi guru, boleh jadi apapaun asal itu memang keahlianmu dan kamu dapatkan dengan usahamu.
            Dan kini saatnya aku merasa bangga , walaupun belum maksimal, karena sekarang sulungku sudah bisa menunjukkan dirinya telah mampu berdikari, Kuliah dibidang yang dia sukai dan minati “AKUTANSI” dengan biaya sendiri di Kuala Lumpur karena dia memang ingin menjadi akuntan publik. Yang nomer dua yang ingin menjadi APOTEKER handalpun, setiap hari selalu pamer point nya yang selalu mendapatkan A di farmasi , sedangkan yang bungsu yang masih bingung dengan cita – citanya aku coba bantu menemukan bakatnya. Kebanggaanku yang kudapat saat ini paling tidak dikarenakan rasa tanggung jawab  yang ditunjukkan anak – anakku terhadap pilihannya.
            Temanku........rasanya memang tak salah dengan bekal yang kuberikan pada ketiga putriku, ilmu pengetahuan untuk menaklukan dunia dan ilmu agama untuk menuntun jalannya dalam menaklukan dunia tetap dalam koridor yang benar, tidak menghalalkan segala cara karena itu jalan menuju ke kehidupan selanjutnya.
            Temanku ini mungkin bukan nasehat tapi sharing , semoga teman – temanku yang lain mempunyai pemikiran yang sama denganku, bahwa anak kita bukanlah boneka yang bisa kita bentuk atau kita atur sesuai kemauan kita, karena mereka juga punya kehidupan sendiri. Karena dunia mereka tidak sama dengan dunia kita, kita ada dimasa sekarang, anak – anak kita ada dimasa depan. (Catatan Nining....medio 16 nopember 2014)