Sabtu, 14 November 2015

PENGARUH STRATEGI MEMBACA GAMBAR DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PADA KELOMPOK B DI TAMAN KANAK-KANAK



BAB  II

KAJIAN PUSTAKA

A.      Hakekat Membaca
1.    Pengertian Membaca
Haryadi (2007:4) dalam buku berbicara dan menulis mengatakan bahwa berbahasa merupakan kegiatan penggunaan bahasa untuk berkomunikasi. Penggunaan bahasa meliputi menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Membaca merupakan salah satu ketrampilan berbahasa yang lainnya.
Sedangkan Anderson yang dikutip oleh Tarigan (1986: 8), menjelaskan bahwa membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan melalui media kata-kata, dimana kata-kata tersebut merupakan satu kesatuan yang dapat dilihat dan mempunyai makna. Proses membaca dimulai dari keinginan anak untuk memahami dan melafalkan huruf sehingga menjadi rangkaian kata-kata yang penuh makna.
Agar dapat membaca secara efektif dan efisien, seorang pembaca harus dapat menggunakan dasar pengetahuan yang telah tersusun dengan baik dan dasar kemahiran yang telah dimiliki dengan benar dan tepat. Pembaca dapat menggunakan keduanya dengan tepat dan benar jika pembaca mempunyai kiat dalam membaca. Kiat yang dimaksud adalah bagaimana pembaca memilih dan menggunakan model membaca, metode membaca, dan teknik membaca sesuai kebutuhan.
2.    Metode Membaca
Berdasarkan cara penyampainnya, membaca terbagi dalam tiga  kelompok sebagai berikut:
a.    Sekuensial
Pada cara ini, membaca dilakukan per bagian kata. Metode ini tepat diajarkan pada anak-anak yang dominan menggunakan otak kirinya. Pendekatan dilakukan secara alfabet, mengenalkan masing-masing huruf, bunyi, suku kata dan menyusunnya menjadi kata. Berikut ini metode membaca yang termasuk sekuensial:
1)   Fonik
Anak diperkenalkan dan diajarkan bunyi huruf dan menyusunnya menjadi kata. Misalnya, anak diperkenalkan dengan bunyi vocal bulat (seperti a,u,dan o) beberapa konsonan bilabial (seperti b, p, dan m)dan konsonan dental (seperti t). huruf-huruf tersebut lazim diucapkan anak yang belajar bicara, seperti  ta-ta-ta, ma-ma-ma atau pa-pa-pa.
2)   Mengeja
Metode ini diperkenalkan abjad satu per satu terlebih dahulu, kemudian menghafalkan bunyinya. Langkah selanjutnya, menghafal bunyi rangkaian abjad atau huruf menjadi sebuah suku kata seperti metode fonik. Metode ini mempunyai kelemahan yaitu dapat menimbulkan kebingungan kepada anak, khususnya balita. Kadang, mereka sulit menerima mengapa rangkaian huruf  b dan a harus dibaca ba (bukan be-a). kelemahan lain, anak sulit menghilangkan kebiasaan mengeja setelah menguasai rangkaian suku kata. Misalnya proses mengeja be a ba de u du sulit dihilangkan untuk membaca badu.
3)   Suku kata
Metode ini mulai banyak digunakan karena tingkat keberhasilan cukup baik. Anak diperkenalkan dengan penggalan suku kata, kemudian dirangkai menjadi satu kata.
          Contoh :
          Ba bi bu be bo
         Ca ci cu ce co
         Ba ca bo bo
Keunggulan metode ini merupakan salah satu cara yang paling banyak digunakan saat ini karena kepraktisannya. Karena metode ini tidak memerlukan waktu untuk mengejar terlebih dahulu.
b.    Simultan
Mengajarkan membaca secara langsung, yaitu seluruh kata atau kalimat dengan sistem “lihat dan ucapkan”. Gagasan yang mendasari metode ini adalah membentuk hubungan antara yang dilihat dengan yang didengarnya sehingga membentuk suatu rantai kaitan mental seperti yang dilakukan orang dewasa ketika membaca. Oleh karena itu, cara ini cenderung diperuntukkan bagi anak-anak yang dominasi otak kanannya menonjol baik. Berikut ini beberapa metode yang termasuk metode simultan:
                                                              
1)   Membaca gambar
Pada metode ini disajikan suatu gambar dan kata yang menunjukkan kata gambar tersebut. Cara ini menggunakan pendekatan permainan, misalkan mengenalkan bahwa suatu gambar “kucing” berhubungan dengan huruf-huruf “kucing”.
2)   Kartu kata atau doman
Metode ini menggunakan kartu-kartu kata yang ukuran hurufnya besar. Mereka diperkenalkan dengan kata-kata yang akrab disekeliling anak, misalnya ibu atau mama, bapak atau papa.  Berkali-kali kartu itu diperlihatkan kepada anak disertai bunyi bacaanya. Jika sudah lancar membaca maka anak diperkenalkan kata-kata yang baru lain, demikian seterusnya.
3)   Membaca “keseluruhan” kemudian “bagian”
Caranya memperkenalkan kalimat lengkap terlebih dahulu, kemudian dipilah-pilah menjadi kata, suku kata dan huruf.
Contoh :
ini baju
ini baju
c.    Eklektik
Cara ini merupakan campuran cara sekuensial dan simultan. Percampurannya sesuai kebutuhan anak karena setiap anak merupakan individu yang unik dan memiliki karakteristik yang berbeda, termasuk dalam hal membaca.
Kalau kita perhatikan pendapat dari para ahli diatas, bahwa membaca gambar merupakan bagian dari membaca dengan metode simultan.
3.    Media Gambar
Gambar merupakan media untuk berkomunikasi dengan orang lain. Gambar berfungsi sebagai stimulasi munculnya ide, pikiran maupun gagasan baru. Gagasan ini selanjutnya mendorong anak untuk berbuat, mengikuti pola berpikir seperti gambar atau justru muncul ide baru dan menggugah rasa (Pamadhi, 2008: 2.8).
Dalam proses belajar mengajar gambar yang digunakan mampu membantu apa yang akan dijelaskas oleh guru, memliki kualitas yang baik, dalam arti, memiliki tujuan yang relevan, jelas, mengadung kebenaran, autentik, aktual, lengkap, sederhana, menarik, dan memberikan sugesti terhadap kebenaran itu sendiri.
Menurut Sadiman (2011, 31-33) ada enam syarat yang perlu dipenuhi oleh gambar/foto yang baik sehingga dapat dijadikan sebagai media pengajaran yaitu: (a) Autentik. Gambar tersebut secara jujur melukiskan situasi seperti kalau orang melihat benda sebenarnya.
(b) Sederhana. Komponen gambar hendaknya cukup jelas dan menunjukkan poin-poin pokok pembelajaran. (c) Ukuran relatif.
Gambar dapat memperbesar atau memperkecil obyek/benda sebenarnya. (d). Gambar/foto sebaiknya mengandung gerak atau perbuatan. (e) Gambar yang bagus belum tentu baik untuk mencapai tujuan pembelajaran. Walaupun dari segi mutu kurang, gambar/foto karya siswa  sering sekali lebih baik. (f) Tidak semua gambar yang bagus adalah media yang baik. Gambar hendaknya bagus dari sudut seni dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Menurut Pamadhi (2008: 2.9) manfaat gambar bagi anak adalah sebagai berikut: (a) alat untuk mengutarakan (berekspresi) isi hati, pendapat maupun gagasannya, (b) media bermain fantasi, imajinasi dan sekaligus sublimasi, (c) stimulasi bentuk ketika lupa, atau untuk menumbuhkan gagasan baru, (d) alat untuk menjelaskan bentuk serta situasi.     
4.    Membaca Gambar
Gambaran mengenai implikasi dari pandangan para ahli literasi di negara maju dapat kita lihat di kelas-kelas rendah dan pendidikan pra-sekolah seperti misalnya di Eropa, Amerika dan Australia. Salah satu kegiatan tersebut adalah dengan menggunakan gambar sebagai media untuk membaca dan menulis untuk anak. Kegiatan membaca gambar diyakini dapat mengembangkan kemampuan berbahasa, dan mengajarkan baca-tulis. Hal ini biasa dilakukan dengan menggunakan sebuah kegiatan yaitu membaca gambar.
Membaca gambar merupakan media gambar yang dibawahnya diberi tulisan yang melambangkan isi atau makna gambar tersebut, yang berkarakteristik khusus yang dibesarkan, baik teks maupun gambarnya, untuk memungkinkan terjadinya kegiatan membaca bersama (shared reading) antara guru dan murid. Media ini mempunyai karakteristik khusus seperti penggunaan gambar dengan warna-warni, gambar yang menarik, mempunyai kata yang mencerminkan isi atau makna dari gambar yang ada diatasnya, kata ditulis dengan menggunakan huruf kecil, dan gambar serta tulisan disesuaikan dengan lingkungan dan kondisi dari anak didik.

B.       Kemampuan Membaca Anak Usia 5-6 Tahun
Durkin (dalam Nurbiana Dhieni, 2005: 5.2) telah mengadakan penelitian tentang pengaruh membaca dini pada anak-anak. Dia menyimpulkan bahwa tidak ada efek negatif pada anak-anak yang diajar membaca dini. Steinberg (dalam Nurbiana Dhieni, 2005: 5.2) juga mengemukakan bahwa anak-anak yang mendapatkan pelajaran membaca dini umumnya lebih maju di sekolah. Hal tersebut masih diperkuat oleh pendapat Moleong (dalam Nurbiana Dhieni, 2005: 5.3) yang mengatakan salah satu aspek yang harus dikembangkan pada anak TK adalah kemampuan membaca dan menulis.
Jadi pengembangan kemampuan membaca dan menulis di TK dapat dilaksanakan selama masih dalam batas-batas aturan praskolastik dan sesuai dengan karakteristik anak, yakni belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar. 
1.    Tahapan Membaca
Untuk mengajarkan kemampuan membaca pada anak TK, guru perlu mengetahui tahapan perkembangan kemampuan membaca pada anak. Menurut Cochrane Efal (dalam Nurbiana Dhieni, 2005: 5.9), perkembangan dasar kemampuan membaca pada anak usia 5-6 tahun berlangsung dalam lima tahap yakni:
a.    Tahap Fantasi (MagicalStage)
Pada tahap ini anak mulai belajar menggunakan buku. Anak mulai berpikir bahwa buku itu penting dengan cara membolak-balik buku. Kadang anak juga suka membawa-bawa buku kesukaannya. Pada tahap ini orang tua hendaknya memberikan model atau contoh akan arti pentingnya membaca dengan cara membacakan sesuatu untuk anak, atau membicarakan tentang buku bersama anak.
b.    Tahap Pembetukan Konsep Diri (Self Concept Stage)
Anak memandang dirinya sebagai pembaca dan mulai melibatkan dirinya dalam kegiatan membaca, pura-pura membaca buku. Orang tua perlu memberikan rangsangan dengan jalan membacakan buku pada anak. Berikan akses pada anak untuk memperoleh buku-buku kesukaannya.
c.    Tahap Membaca Gambar (Bridging Reading Stage)
Anak menyadari cetakan yang tampak dan mulai dapat menemukan kata yang sudah dikenal. Orang tua perlu membacakan sesuatu kepada anak, menghadirkan berbagai kosa kata pada anak melalui lagu atau puisi. Dan berikan kesempatan membaca sesering mungkin.
d.   Tahap Pengenalan Bacaan (Take-off Reader Stage)
Anak mulai menggunakan tiga sistem isyarat (graphoponic, semantic dan syntactic) secara bersama-sama. Anak mulai tertarik pada bacaan dan mulai membaca tanda-tanda yang ada di lingkungan seperti membaca kardus susu, pasta gigi dan lain-lain. Pada tahap ini orang tua masih harus membacakan sesuatu pada anak. Namun jangan paksa anak untuk membaca huruf demi huruf dengan sempurna.
e.    Tahap Membaca Lancar (Independent Reader Stage)
Anak dapat membaca berbagai jenis buku secara bebas. Orang tua dan guru masih harus tetap membacakan buku pada anak. Tindakan tersebut dimaksudkan dapat mendorong anak untuk memperbaiki bacaannya. Bantu anak memilih bacaan yang sesuai.
Huruf dan kata-kata merupakan suatu yang abstrak bagi anak-anak, sehingga untuk mengenalkannya guru harus membuatnya menjadi nyata dengan mengasosiasikan pada hal-hal yang mudah diingat oleh anak. Pertama kali mengenalkan huruf biasanya guru memusatkan hanya pada huruf awal suatu kata yang sudah di kenal anak. Dan agar tidak ada kesan pemaksaan “belajar membaca” pada anak maka harus dilakukan dengan menyenangkan.
Sebelum mengajarkan membaca pada anak, dasar-dasar kemampuan membaca atau kemampuan kesiapan membaca perlu dikuasai anak terlebih dahulu. Hal ini bertujuan agar kita dapat mengetahui apakah anak sudah siap diajarkan membaca.
2.    Kemampuan Kesiapan Membaca
Yang perlu dikembangkan adalah sebagai berikut:
a.    Kemampuan membedakan auditorial
Anak harus memahami suara umum di lingkungan mereka. Mereka harus memahami suara yang dihasilkan oleh konsonan atau vocal.
b.    Kemampuan diskriminasi visual.
c.    Kemampuan membuat hubungan suara-simbol.
d.   Kemampuan perseptual motoris.
e.     Kemampuan bahasa lisan.
f.     Membangun sebuah latar belakang pengalaman.
g.    Interpretasi gambar.
h.    Progesi dari kiri ke kanan.
i.      Kemampuan merangkai.
j.      Penggunaan bahasa mulut.
k.    Pengenalan melihat kata.
l.      Lateralisasi.
m.    Koordinasi gerak.