Google+ Badge

Google+ Badge

Selasa, 31 Maret 2015

Novel TerbaruKu telah terbit "CINTA SANG PUTRI"



Putri adalah sedikit dari anak gadis yang mempunyai kemandirian dan keberanian mengambil resiko , selain itu dia juga gadis yang  mempunyai mimpi besar. Dan karena idealismenya itu ternyata banyak cowok yang justru kagum akan pribadinya, yang dianggap lain daripada yang lain, karena biasanya gadis – gadis cenderung bersikap manja, cerewet, minta dinomorsatukan dan merasa lemah.
Dan perjalanan cinta Putripun jadi berliku ketika ada tiga cowok sekaligus yang menyatakan cinta padanya. Dan ketiga cowok itupun bukalah cowok yang sembarangan, mereka semuanya cowok yang berkualitas dibidangnya masing- masing.dan ketiganya juga menawarkan cinta yang tidak sama.
Ada Bayu vokalis band yang cuek dan sedikit autis tapi romantis habis, ada Desta sijenius yang menawarkan cinta yang santun dan ada pak Rian sang guru dengan cintanya yang tenang. Dan semuanya relah mengorbankan apapun demi mendapatkan cinta Putri.
Dimulai dengan kisah cinta pak Rian sang guru yang dengan setia mendampingi dan menunggu Putri menyelesaikan kuliahnya, tetapi ternyata ditengah perjalanan penantiannya, tiba – tiba Putri memutuskan hubungan mereka yang belum sempat tersambung  dengan rapih itu, sementara itu Desta melihat keakraban pak  Rian denga Putri akhirnya dengan sekuat hatinya dia berusaha menggerus cintanya, melupakan perasaannya, menepihkan cintanya dan membunuh cintanya demi kebahagiaan Putri dan pak Rian, dan itu sungguh sangat sakit, sakit sekali bahkan lebih sakit dari patah hati.
Sedangkan Bayu  yang mampu bertahan, yang  memperjuangkan cintanya dengan caranya sendiri, cara yang unik,, cara yang membuat Putri menjadi terikat dengan perjanjian konyol yang dibuat Bayu, tapi justru dari perjanjian konyol itu yang mempersatukan cinta Putri dan Bayu, yang menjadikan cinta mereka kokoh dan akhirnya dengan berani Putri mengambil keputusan bahwa Bayulah takdir  cinta Putri, cinta  yang dia cari  selama ini.
Memang cinta itu misterius, tapi cinta juga hebat, karena cinta tahu arah mana yang dia tuju, pada siapa dia berlabuh, dan bagaimana cara berlabuhnya hati yang kasmaranapakah akan berlabuh pada Bayu sang volalis,  Destasijenius atau justru pada pak guru Rian
 


Senin, 02 Maret 2015

Senua Berawal Dari Ketulusan Hati



Subhanalah setelah lebih dari   hampir 20  tahun  pertemuan luar biasaku dengan salah satu muridku TK di surabaya. Seorang dokter dengan penampilan yang luar biasa yang baru saja  menjadi seorang pembicara  disebuah seminar  kesehatan dihotel  satelit tiba – tiba datang menghampiriku yang saat itu  sedang chek in . dengan sikapnya yang sopan pak dokter ganteng itu bertanya
“maaf apakah ibu seorang guru TK?’,
‘benar, ada apa yah pak”.jawabku memberi penghoramatan dengan sebutan “pak”  atas kehebatannya sebagai seorang dokter sekaligus sebagai nara sumber
‘apakah ibu pernah mengajar di TK MIMI ?’, pak dokter keren itu masih bertanya
‘benar’, kataku sambil mengangguk tak mengerti sekaligus diliputi seribu pertanyaan yang menyesak
Dan tiba – tiba saja pak dokter keren , yang berdasi  dan  dihormati  tersebut langsung mengajak bersalaman , dan mencium tanganku dengan penuh hormatnya
‘apakah mam nining lupa, saya Billy mam murid mam nining ?, (Mam adalah panggilan / sebutan untuk ibu guru disekolahku  ).
Sejenak aku terperangah, merasa takjub dengan apa yang baru saja kualami. Bagaimana mungkin seorang dokter  ganteng , yang begitu parlente dan hebat ini  tiba – tiba datang dan mencium tangan keriputku, dan ditengah ketakjubanku dokter Billy masih dengan penuh hormat merangkulku mengajak untuk duduk di lobby hotel, untuk bernostalgia dengan  mengenang segala  kecengengannya  dimasa duduk dibangku TK. Bahkan ketika sopirnya mengganggu untuk memberi tahu  bahwa mobilnya sudah siap , diapun memberi isyarat dengan mengibaskan tangannya untuk meninggalkannya berdua denganku. Aku mendengar semua ceritanya dengan tanpa berkedip menatap mukanya, yang ternyata tidak ada satupun yang tersisa dari   Billy  kecil kecuali matanya yang sipit dari dulu selebihnya Billy telah menjelma menjadi seorang  yang baru. semua sudah berubah pantas bila aku tak mengenalnya.  Disaat aku minta ijin untuk menyelesaikan administraskui dia tetap  setia menungguku dan ketika kami melanjutkan obrolan yang terputus tadi  dia memberi tahu bahwa maminya titip salam buatku, rupanya saat ketika  kutinggal tadi dia BBM  an dengan maminya.
‘ maaf Billy kok kamu  masih ingat dengan ibu yah, padahal ibu kan sudah berubah jadi gembrot”, candaku
‘saya tak akan pernah melupakan pada orang yang telah berjasa menanamkan semangat dalam hidup saya, Mam nining yang selalu memotivasi saya, dan selalu menguatkan hati  dan menghapus air mata saya ketika saya sedang menangis habis dibully teman – teman. Mam nining  juga yang selalu bisa meredahkan kemarahan saya ,’ kata Billy sambil tersenyum
Aku sungguh sangat terharu dan tidak percaya  bagaimana tidak ?, ada seorang anak yang bisa menghargai gurunya sedemikian besar.  dan diakhir pertemuan kami doketr Billy minta alamat rumah dan nomer telepon,.
Dan ketakjubanku  semakin membuncah, ketika kemarin  pas hari sabtu pulang dari workshop diLawang Malang. Aku memakai jasa travel Kartika Sari bertiga dengan temanku bu Har dan Bu Ria duduk ditengah . Perjalanan baru juga nyampai di pabrik bentoel temanku bu Ria sudah mabuk , aku yang kasihan dengan kondisi bu Ria yang tak berdaya itu minta tolong pada pak Sopir agar bisa duduik didepan dekatnya  yang kebetulan sedang kosong , tetapi pak Sopir menolak karena kursi depan sudah dipesan sama Boss pemilik Hotel Pondok Permai Jatim Park 1 akhirnya aku hanya bisa menghibur bu Ria agar sabar. Sampai Pom Bensin ada penumpang lagi tambah 3 dan duduk dibelakang. Lalu travelpun melanjutkan perjalanan sampai Hotel yang dimaksud  terlihat seorang pemuda tanggung dengan penampilan sederhana tapi kelihatan sekali kalau terhormat karena ketika dia mau meninggalkan hotel beberapa karyawannya mengangguk dan satpam dengan segera membukakan pintu mobil didepan tak kalah cekatan pak sopir langsung menerima tas bawaannya (ransel). Dan sebelum masuk mobil rupanya  pak sopir memberi tahu bahwa ada penumpang yang lemas karena mabuk  minta oper duduk didepan, dan rupanya dengan besar hati sang Boss mempersilahkannya, dan otomatis sang Boss pun pindah duduk berhimpit denganku ditengah.
Dalam perjalanan tak ada yang istimewa karena aku tertidur, begitupun dengan temanku bu Har yang duduk disampingku dekat jendela juga tertidur. Sampai RM Barokah mobil travel berhenti memberi kesempatan pada penumpang untuk istirahat atau makan. Kulihat pak Boss juga turun, aku sebetulnya malas karena perutku masih kenyang, tetapi karena melihat bu Ria yang lemas akhirnya aku menemani bu Ria dan bu Har makan, aku hanya memesan teh panas untuk  sekedar menghangatkan badan.
Selesai istirahat pak sopir mengajak kami untuk melanjutkan perjalanan. Penumpang dibelakang asyik bercerita . untuk memecah keheningan akupun basa basi bertanya pada pak Boss disampingku.
‘tujuan mana mas?’.
‘ngariboyo bu, kalau ibu sendiri  ’, jawabnya sopan sambil tersenyum
‘takeran , kok  naik travel  mas biasanya anak muda sukanya naik motor atau bawa mobil sendiri”.
‘tidak boleh istri bu”.
‘wah  pintar istrinya mas, biar njenengan bisa istirahat”.
‘maaf apa ibu asli magetan yah”, tanya pak Boss
‘bukan mas, aku asli surabaya kebetulan menikah dengan orang magetan, jadi yah ikut jago”. Jawabku sambil mencoba melucu
‘sama bu saya juga asli surabaya dan dapat jodoh orang magetan juga , ibu surabayanya dimana yah?’.
‘aku dipakis, kalau masnya dimana ?’.
‘digubeng”.
‘sama setasiun gubeng ?’.
‘saya gubengnya di jalan Bali bu”.
Aku termangu- mangu  sambil mengingat letak jalan Bali. (makhlum sudah tua , ingat – ingat lupa).
“ibu dulu juga pernah berdinas didaerah gubeng tepatnya dijalan sumatra, ibu jadi kepala TK Kartika, kira – kira tahun 1996 sampai tahun 2001”, aku mulai bercerita  ketika bisa mengingat letak jalan Bali yang tidak jauh dengan jln sumatra tempat sekolahku dulu
‘ oh yah.....,maaf bu saya dulu juga murud TK Kartika loh , kalau tidak salah apakan ibu itu bu nining  yah  ?’, tanyanya hati – hati dengan masih sopan
Aku tercenung kaget, bagaimana dia masih ingat dengan bu Nining  guru TK yang sudah dilewati waktu lebih kurang 18 tahun yang lalu, pikirku dengan heran
‘benar mas aku bu nining, terus jenengan siapa yah ?  maaf loh kalau lupa  ibu  kan sudah tua ’, aku masih bertanya karena belum bisa menebak sosoknya.
Dia tersenyum dan menggapai tanganku , dia mencium tangan keriputku dengan penuh haru.
‘saya adalah murid bu nining yang selalu bawa dot ke sekolah dan saya yang selalu minta antar mama untuk main kerumah bu nining  , rumah saya dijalan bali bu ”.
‘apa yang punya POM bensin di jl A. Yani, apakah kamu taufiq”. Tanya saya dengan gembira karena berhasil menebak siapa pak Boss yang duduk disampingku.
Taufiq mengangguk, diapun membiarkan ketika badannya kurengkuh untuk kupeluk. Ada perasaan haru yang luar biasa yang menyesak didada
‘bu Nining saya pernah mencari ibu di TK Kartika tapi TK kartika sudah tutup lalu saya mencari ibu ke pakis tapi juga tidak ketemu, katanya bu nining sudah pindah”.
‘oh yah  , ada apa mas kok sampai mencari  ibu ? ”, tanyaku dengan masih penuh haru
‘disuruh mama untuk pamitan karena rumah di jalan Bali dijual lalu kami sekeluarga pindah ke malang di jalan sukarno Hatta’.
Yah Allah apakah begitu berharganya gurumu ini nak, sampai kamu harus mencari – cari bu guru tanyaku dalam hati dengan perasaan haru yang membuncah, sekali lagi kuraih tubuh jangkungnya untuk kupeluk.
‘oh yah putranya bu nining berapa?’, tanyanya  kemudian setelah kulepas pelukan sayang seorang guru pada muridnya
‘tiga mas putri semua”, kataku
‘kalau cucunya sudah berapa bu ?”.
‘belum punya mas, karena putri bu nining masih menempuh pendidikan semua, biarkan mereka menyelesaikan pendidikannya dulu”.
‘cucunya bu nining  sudah satu, dari saya, kemarin istri saya baru melahirkan bu ”. kata taufiq lembut
Sekali lagi aku dibuat terpana dengan ucapannya. Om my God......pak Boss ini telah menganggapku seperti  ibunya  sendiri sampai – sampai anaknya juga dia bilang cucuku. Terimakasih Tuhan atas karunia ini
‘ iya yah..cucu bu nining satu terimakasih yah mas  kamu masih mengingat bu nining”, kataku tak bisa menutupi perasaan haruku
Dan didalam mobil APV itupun terjadi obrolan yang seru  saur manuk (saling bersahutan)  diantara para penumpang melihat pertemuanku dengan murid TK ku yang telah terpisah18 tahun. Mereka semua ikut gembira
‘saya tidak akan pernah melupakan bu nining, karena selama tiga tahun bu nining telah membimbing saya dengan ketulusan yang luar biasa, dan itu masih tergambar jelas diingatan saya”. Kata pak Boss
Mendengar pengakuannya pengin rasanya aku menangis, tapi aku tak mau cengeng. Temanku bu Har pun akhirnya  ikutan berkomentar “wah senang yah bu nining punya murid yang begitu sayang pada ibu gurunya, padahal biasanya guru TK itu hanya dipandang sebelah mata karena dianggap tidak punya andil apa – apa dalam kesuksesan seorang anak”.
Dari kejadian yang kualami tersebut dengan selang waktu yang hampir berdekatan, aku  hanya mampu mengucapkan rasa syukur yang tak terhingga. Ada terselip rasa kebanggaan yang luar biasa dihatiku ketika menyaksikan muridku ternyata telah menjadi orang yang sukses dibidangnya masing – masing , tetapi kebangganku bukan  hanya karena kesuksesannya menjadi dokter, motivator, pengusaha ataupun profesi lainnya, karena menurutku sebuah kesuksesan karir  semua orang akan bisa mendapatkannya kalau diberi  kesempatan , kemampuan dan keahlian/kepandaian. Tetapi kebanggaaku lebih dari itu. Sebagai seorang guru TK  aku bangga dan salut karena  karakter yang kuat yang dimiliki dan telah ditunjukan oleh   Billy dan Taufiq.
Meskipun mereka telah menjadi orang sukses dalam karirnya, mereka  masih menyimpan rasa empati dan simpati. Mereka masih bisa menghargai orang lain dan menghormatiinya dengan tulus pula.
Seandainya semua anak muda mempunyai karakter yang posistif seperti Billy dan Taufiq, maka Indonesia jaya pasti bisa diwujudkan . tidak akan ditemui pelajar yang tawuran , tidak akan ditemui pemuda yang tegah menganiaya orang tuanya, tidak akan ditemukan maling - maling cilik yang menggaggu keamanan, tidak ada lagi para pecandu yang tak tahu arah, Karena anak yang mempunyai karakter yang positif (positive thinking dan positive feel), anak yang bisa menghormati orang tua dan gurunya akan takut untuk melakukan perbuatan yang akan membuat kecewa orang tuanya maupun gurunya, sebaliknya mereka akan berusaha untuk mengukir prestasi yang nantinya bisa membuat orang tuanya maupun gurunya merasa bangga.
Doaku selalu semoga semua muridku baik yang sekarang masih duduk dibangku kuliah (mahasiswa), atau yang sedang jadi pelajar (SMA/SMK/SMP. Atau SD)  semoga diberi kemampuan untuk jadi pribadi yang unggul, jadi pribadi yang tangguh. Tidak hanya unggul dalam bidang akademik saja tetapi juga unggul dalam bidang  sosial, norma dan agama sehingga nantinya  tidak hanya bisa menjadi kebanggaan orang tua dan gurunya saja tetapi akan mampu menjadi  kebangaan bangsa dan negaranya. Aamiin.
Catatan Nining diaawal bulan maret 2015

Minggu, 22 Februari 2015

Strategi Pengembangkan Moral -Agama pada Anak Program PAUD



1.      Strategi Pengembangkan Moral -Agama pada Anak Program PAUD
            Mendidik anak pada masa usia dini tidak sama dengan orang dewasa, anak usia dini memiliki keunikan dan karakter yang berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu diperlukan suatu strategi yang tepat dalam proses belajar-mengaiar. Dalam kaitan dengan pengembangan moral-agama pada anak usia dini, strategi atau pendekatan individu (individual approach) penting dilakukan sebab setiap anak memiliki karakter dan keunikan yang berbeda-beda. Misalkan dari sisi karakter, ada anak yang pendiam atau tidak suka bergaul, disisi lain ada juga anak yang suka bergaul dan mudah adaptasi dengan teman-temannya. Realitas semacam ini menuntut para guru untuk melakukan pendekatan individu kepada anak agar dapat memahami apa yang harus dilakukan oleh guru dengan tetap nnemperhatikan keunikan anak .
            Sebenarnya strategi pengembangan moral-agama pada anak usia dini sangat sederhana. Hal ini karena pada usia dini, anak hanya membutuhkan sesuatu yang bersifat konkrit dan berkaitan dengan kehidupan riil mereka sehari-hari, misalkan hanya dengan bercakap-cakap saja mengenai sesuatu yang boleh diucapkan atau tidak boleh diucapkan anak sudah bisa menangkap (misalnya adalah mana bahasa yang sopan dan mana yang tidak). Atau bahkan dengan hanya memberikan contoh perbuatan, misal mencium tangan kedua orang tua atau guru, anak akan dengan mudah menirukannya. HaI ini menunjukkan bahwa belajar untuk melakukan atau mempraktikkan sesuatu (learning to do) secara langsung merupakan strategi yang tepat untuk diterapkan.
            Di samping hal itu, secara umum pengembangan moral-agama pada anak usia dini juga terkait dengan pengenalan dan pemahaman tentang keberadaan Tuhan. Jadi sebagai guru pada program PAUD hendaknya mampu mentransfer hal ini ke dalam diri anak. Misalnya guru mengenalkan Tuhan melalui makhluk-makhluk ciptaan-Nya, seperti manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan lain sebagainya. Pertanyaan sederhana dapat diajukan kepada anak, misal: siapa yang menciptakan manusia ? Setelah anak menjawab, mungkin ada yang jawabannya benar dan mungkin juga ada yang salah, guru berusaha menggiring jawaban anak pada upaya memperkenalkan sang penciptanya (Allah) dengan menunjukkan keistimewaan makhluk ciptaannya. Misalkan manusia diberi akal pikiran yang tidak dimiliki makhluk-makhluk lainnya. Matahari bisa memberikan sinar ke bumi untuk kehidupan manusia, bulan dan bintang bisa memberikan cahaya penerang di malam hari, dan lain sebagainya.
            Menurut Hidayat (2007), di antara strategi pengembangan moral-agama pada anak usia dini secara sederhana adalah sebagai berikut:
  1. Anak diajak untuk melihat gambar dan bercerita tentang gambar yang dilihatnya dengan bimbingan guru, misalkan untuk melatih anak hidup tertib dengan bimbingan guru (misalkan untuk melatih anak hidup tertib dan teratur dalam makan dan minum, bangun tidur, bermain dan lain-lain, anak bisa diajak komunikasi melalui gambar yang ditunjukkan).
  2. Membacakan pertanyaan sederhana dan mendorong anak menjawab berdasarkan gambar yang dilihatnya, misalkan gambar seseorang yang sedang beribadah, berjabat tangan, dan lain-lain.
  3. Memperagakan sesuatu yang diajarkan di hadapan anak, kemudian anak diajak langsung menirukannya.
Sementara itu terkait dengan sifat pemahaman anak usia dini terhadap nilai-nilai keagamaan (dan moral) pada saat proses belajar mengaiar menurut ]ohn Eckol (2005) dalam Hidayat di antaranya adalah sebagai berikut:
  1. Unreflective, yaitu pemahaman dan kemampuan anak dalam mempelajari nilai-nilai agama sering menampilkan suatu hal yang tidak serius. Mereka melakukan kegiatan ibadah pun dengan sikap dan sifat dasar yang kekanak-kanakan, tidak mampu memahami dan menghayati apa yang sedang dilakukannya. Artinya salah satu sifat anak dalam memahami pengetahuan ajaran agama sering dengan bahasa guyonan, main-main, dan asal mengikuti  apapun yang diperintahkan kepadanya. Contoh ketika anak diminta oleh guru untuk mengerjakan ibadah bersama dengan tertib maka sangat manusiawi jika ada di antara mereka yang mengerjakannya dengan bercanda, main-main, dan kurang serius. Ketika anak belajar mengucapkan hafalan doa, kita juga dapat mendengarkan kemampuan vokalnya yang kurang maksimal, demikian pula dalam menirukan gerakan (misal gerakan dalam shalat, berdoa, dan lain-lain). Hal itu semua seyogyanya jangan dijadikan sebagai sebuah masalah ketidakberhasilan belajar, namun dijadikan sebagai hal yang objektif bahwa itulah hakikat anak dengan prestasi dan keadaan yang sesungguhnya, yang harus kita hargai dengan baik. Namun terkadang banyak kita temui di lapangan, para guru dan orang tua kurang menyadari hal tersebut karena masih banyak di antara mereka yang memaksakan kehendaknya dengan menggunakan pendekatan yang kurang bijaksana seperti memaksa anaknya untuk mengikuti/ mencontoh dengan tepat, persis apa yang diajarkan oleh guru dan orang tua. Sering dijumpai betapapun ketika anak dipaksa namun memang anak belum mampu menirukan, kemudian anak dimarahi maka hal tersebut dapat berdampak tidak baik bagi anak, malah bisa membuat anak menangis bahkan pesimis.
Pendekaatan semacam itu memang bertujuan untuk membuat, anak dapat belajar dengan maksimal, namun sering dilupakan bahwa anak bukan orang dewasa. Jadi sangatlah keliru jika guru atau orang tua menginginkan dan mengharuskan anak memiliki kemampuan atau kompetensi Belajar dengan kriteria dan parameter orang dewasa. Mereka adalah anak kecil yang belum matang dalam beberapa hal. Itulah yang patut direnungkan agar para guru dan orang tua tidak mengulangi kekeliruan dan memaksakan kemauan dan kehendaknya kepada anak dengan tidak memperhatikan kemampuan dan kebutuhan anak itu sendiri.
  1.  Egocentris, sering dijumpai bahwa anak lebih mementingkan kemauannya sendiri, tidak peduli dengan urusan orang lain. Demikian pula dalam mempelajari nilai-nilai agama anak usia dini terkadang belum mampu bersikap dan bertindak konsisten. Misalkan suatu ketika anak terlihat sangat rajin dan mau mengerjakan kegiatan ritual ibadah seperti kalau di sekolah belajar mengucapkan doa bersama, kalau di rumah seperti mengaji, pergi ke tempat ibadah, dan lain-lain, namun pada saat yang lain rnereka berperilaku sebaliknya. Betapapun guru atau orang tua berulang kali mengingatkan dan menyuruh anak untuk melakukan kegiatan keagamaan, Namun jika anak merasa malas dan lebih asyik bermain maka semua perintah dan anjuran tadi tidak dipedulikannya. Memperhatikan sifat egosentris yang demikian maka sebagai guru atau orang tua sangatlah tepat apabila menganggap bahwa sifat tersebut merupakan hal yang wajar karena memang kondisi psikologis mereka yang masih labil dan belum matang. Para guru dan orang tua harus memaklumi hal itu, namun tidak berarti membiarkan tanpa upaya pada arah yang positif. Walaupun demikian guru atau orang tua tetap tidak boleh memaksakan kehendak sesuai dengan keinginannya sebab mereka boleh jadi pada kesempatan yang lain akan berubah sikapnya. Itulah labilitas psikologis anak yang perlu dipahami oleh guru dan orang tua.
  2. Misunderstand, yaitu anak akan sering mengalami salah paham/. Sebagai contoh ketika anak mendengar bahwa Allah itu Maha Besar, maka yang terbesit dalam pikiran anak adalah Allah besarnya seperti raksasa, dan lain-lain.
  3. Imitative, yaitu anak banyak belajar dari apa yang mereka lihat secara langsung. Mereka banyak meniru dari apa yang pernah dilihatrya sebagai sebuah pengalaman belajar. Memperhatikan realitas semacam itu maka guru dan orang tua harus siap ditiru anak. Oleh karena itu guru dan orang tua perlu menunjukkan contoh atau keteladanan yang baik dalam setiap ucapan  dan perbuatan.
Adapun faktor yang mempengaruhi nilai-nilai keagamaan tertanam dengan baik atau tidak pada diri anak adalah faktor hereditas/pembawaan (internal) dan faktor eksternal (lingkungan). Faktor bawaan merupakan potensi yang berasal dari orang tua. Dalam teori nativisme dikatakan bahwa apa yang ada pada diri orang tua untuk selanjutnya akan diwarisi oleh anak-anaknya, baik berupa kemampuan intelektual maupun karakter. Oleh karena dalam teori agama (Islam) kalau menginginkan anak menjadi baik maka orang tua atau bahkan seiak muda (ketika menjadi calon bapak-ibu) harus menjadi lebih baik dulu, sebab kepribadian yang baik seperti itu juga akan mempengaruhi karakter generasi berikutnya. Demikian pula sebaliknya kepribadian orang tua tidak baik maka sengat dimungkinkan juga terwariskan kepada anak-anaknya karakter tidak baik pula walaupun tidak bersifat mutlak pengaruhnya.
Sementara itu faktor lingkungan dalam realitasnya juga dapat berpengaruh dalam mempengaruhi tumbuh-kembangnya nilai-nilai moral dan agama pada diri anak. Manakala lingkungan sosial anak itu kondusif, misalnya lingkungan agamis, orang-orang baik, maka anak juga akan mudah terpengaruh dengan lingkungan positif yang demikian, akan tetapi ketika lingkungan sosial anak itu sebaliknya maka yang terjadi adalah juga sebaliknya, yakni anak, kemungkinan memiliki kecenderungan negatif walaupun tidak bersifat mutlak pengaruhnya. Memang dalam teori empirisme faktor lingkungan dikatakan juga sebagai faktor yang sangat mempengaruhi anak itu seperti apa.

2. Desain Kegiatan Pembelajaran dan Materi Pengembangan Moral-Agama  yang Sesuai dengan Program PAUD
Sebelum mengulas desain kegiatan pembelajaran dan pengernbangan moral-agama pada anak di sini terlebih dahulu perlu dikemukakan sekilas tentang masa anak-anak. Menurut Reni Akbar dkk, masa prasekolah merupakan  masa-masa bahagia dan amat memuaskan dari seluruh  kehidupan anak. Untuk itulah kita perlu menjaga hal tersebut sebagaimana adanya. Janganlah memaksakan sesuatu karena diri kita sendiri, baik mengaharapkan secara banyak dan segera maupun mencoba melakukan hal-hal yang memang mereka belum siap…Negara-negara Eropa dan Amerika meyakini bahwa tidak perlu untuk bersikap terburu-buru untuk mengajari anak membaca sampai anak berusia tujuh tahun. Penelitian Sue Moskowitz terhadap sejumlah anak yang diajar membaca pada waktu dini menunjukkan bahwa anak-anak tersebut tidak mampu mempertahankan kelebihan-kelebihan yang mereka miliki dari teman sekelasnya yang tidak dapat membaca sebelum cukup umur. Moskowitz juga mempertanyakan anak-anak yang didorong orang tuanya belajar membaca pada usia dini…Dengan mengajari anak membaca pada usia tujuh tahun, anak-anak Skandinavia, baik  perempuan tidak memiliki masalah dalam pelajaran rnembaca (Akbar Hawadi,2006: 5).
Dalam kaitan dengan perkembangan moral anak menurut Charles Wenar dalam Akbar dikatakan bahwa perkembangan moral anak berjalan lamban dan bergerak sesuai dengan meningkatnya kematangan pada diri anak untuk dapat memahami nilai-nilai keberhasilan, kejujuran, dan tanggungjawab. Menurut hemat penulis, pengenalan mengenai sesuatu yang baik dan yang tidak baik, seperti dalam bermain anak juga sudah harus mulai diajarkan, misalnya ketika dalam bermain anak berebut mainan yang bukan rniliknya maka seyogyanya guru atau orang tua segera merespons dengan bahasa anak. Ini merupakan bagian dari peletakan dasar-dasar sikap dan kepribadian yang terpuji pada diri anak.
Mengacu pada deskripsi tersebut maka kegiatan pembelajaran dan pemberian materi moral-agarna perlu dirancang secara sederhana sesuai dengan tingkat kemampuan anak, seperti kegiatan bermain sambil belajar. Menurut EIis  (2005) dalam Hidayat, ruang lingkup materi moral-agama pada program PAUD meliputi (a) peletakan dasar-dasar keimanan, (b) peletakan dasar-dasar kepribadian/budi pekerti yang terpuji, dan (c) membiasakan beribadah sesuai dengan kemampuan anak. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa segala rutinitas dalam kehidupan sehari-hari anak hendaknya selalu diwarrnai dengan nuansa keagamaan agar mereka kelak kemudian selalu ingat kepada -Tuhannya.
Selanjutnya, dalam merancang kegiatan pengembangan moral-agama pada anak usia dini perlu dilakukan secara sirnultan (terus-menerus) dan terpadu, baik terpadu dalam hal kerjasama antara orang tua dan guru maupun terpadu dalam dalam hal materi pemberajarannya, seperti memadukan antara yang teoritis dan praktis. Mengapa demikian ? karena pada masa usia dini, anak belum mampu secara langsung memahami hubungan-hubungan antara yang teoritis dan praktis. Pada masa usia dini, anak masih banyak didominasi oleh pengetahuan yang masih bersifat abstrak. Oleh karena itu keterpaduan ini perlu dirancang oleh pendidik agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai secara maksimal dan efektif.
Keterpaduan pembelajaran (integrated learning) lainnya juga bisa dilakukan dengan cara mengaitkan kehidupan alam sekitar, seperti lingkungan  alam dan lingkungan sosial yang sering dialami anak-anak, kemudian nilai-nilai agama tersebut dimasukkan sebagai bagian dari lingkungan tersebut. Misalkan bagaimana seorang anak harus merawat lingkungan alam, seperti tumbuhan, hewan, kebersihan, dan lain sebagainya. Demikian pula dalam lingkungan sosial, misalkan bagaimana seorang anak harus berbuat baik kepada sesama teman ketika ada temannya yang membutuhkan seperti pinjam pensil, penghapus, dan lain sebagainya. Contoh-contoh empirik tersebut dimasuki dengan ajaran-ajaran moral-agama dengan menekankan bahwa hal-hal yang perlu dilakukan adalah berbuat baik kepada siapa saja sebab ajaran agama mengajarkan kepada kita demikian, dan bagi siapa saja yang menjalankan secara senang, Allah akan mengasih sayangi, dan pada suatu saat Allah juga akan memberikan sesuatu yang lebih baik daripada yang kita lakukan sekarang ini.
Dalam hal pengembangan moral-agama dalam Garis-garis Besar Program Kegiatan Belajar (GBPKB) di PAUD diistilahkan dengan materi program pembentukan perilaku anak melalui pembiasaan yang terwuiud dalam kegiatan sehari-hari. Adapun tujuan dari program pembentukan perilaku adalah untuk mempersiapkan anak sedini mungkin dalam mengembangkan sikap dan perilaku yang dilandasi oleh nilai-nilai moral pancasila dan agama. Pokok-pokok dan ruang lingkup materi tersebut meliputi:
  1.  Berdoa sebelum dan sesudah memulai kegiatan
  2. Mengucapkan salam bila bertemu dengan orang lain
  3. Tolong menolong sesama teman
  4.  Rapi dalam bertindak dan berpakaian
  5.  Berlatih untuk selalu tertib dan patuh pada peraturan serta bersedia menerima tugas, menyelesaikan tugas, dan memusatkan perhatian dalam jangka waktu tertentu
  6.  Memiliki sikap tengang rasa terhadap keadaan orang lain
  7. Berani dan mernpunyai rasa ingin tahu yang besar
  8.  Merasa puas atas prestasi yang dicapai
  9. Bertanggun gjawab terhadap tugas yang diberikan
  10. Bergotong royong sesama teman
  11. Mencintai tanah air
  12. Mengurus diri sendiri, antara lain meliputi membersihkan diri sendiri, berpakaian sendiri, makan sendiri, dan memelihara milik sendiri
  13.  Menjaga kebersihan lingkungan, termasuk membantu membersihkan dan membuang sampah pada tempatnya.
  14. Menyimpan mainan setelah digunakan
  15. Mengendalikan emosi, misalnya saat berpisah dengan ibu tanpa menangis, sabar menunggu giliran, berhenti bermain pada waktunya tidak cengeng, dapat membedakan milik sendiri dan orang lain, menunjukkan reaksi yang wajar karena marah, senang, sedih, takut, dan cemas.
  16. Sopan santun meliputi terbiasa mengucapkan terima kasih dengan baik atau meminta tolong dengan baik
  17. Menjaga keamanan diri, termasuk menghindar dari obat-obat berbahaya dan menghindar dari benda-benda yang berbahaya pula (Hidayat mengutip GBPKB 1995).
Sedangkan kompetensi dan hasil berajar yang ingin dicapai pada aspek pegembangan moral-agama mengacu pada menu pembelajaran pada Pendidikan Anak usia Dini adalah kemampuan melakukan ibadah, mengenal dan percaya akan ciptaan Allah dan mencintai sesame(Hidayat 2007). Berikut ruang lingkup dan rinciannya berdasarkan kelompok mulai 3-6 tahun:
a.  Menyayikan lagu keagamaan
b. Berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan dengan sikap berdoa
c. Dapat melakukan gerakan beribadah
d. Membedakan ciptaan Tuhan dengan buatan manusia
e. Menyayangi orang tua, orang di sekeliling, guru, teman, pembantu, binatang, dan tanaman
f. Mengenal/memahami sifat-sifat Tuhan, misalnya Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan lain sebaginaya
g. Merasakan/ditunjukkan rasa sayang dan cinta kasih melalui belaian atau rangkulan
h. Selalu mengucapkan terima kasih setelah menerima sesuatu
i. Mengucapkan salam
j. Mengucapkan kata-kata santun, misalnya maaf, tolong, dan lain-lain
k.Menghargai teman dan tidak memaksakan kehendak
l. Membantu pekerjaan ringan orang dewasa
Sementara itu terkait dengan karakter atau sifat materi pengembangan moral dan nilai-nilai agama pada anak usia dini, menurut Hidayat guru harus dapat memilih materi yang sesuai dengan karakter anak usia dini, di antaranya bersifat terapan dan berkaitan dengan kegiatan rutin anak-anak dalam kehidupan sehari-hari, (b) enjoyable, yaitu materi pembelajaran diupayakan bisa membuat anak senang, menikmati, dan mengikuti kegiatan dengan antusias, dan (c) mudah ditiru, yaitu materi yang disampaikan dapat dipraktikkan oleh anak dengan mudah.