Google+ Badge

Google+ Badge

Senin, 20 Juli 2015

MEMBANGUN KARAKTER (CHARACTER BUILDING) ANAK USIA DINI MELALUI BUDAYA SEKOLAH



MEMBANGUN KARAKTER  (CHARACTER BUILDING) ANAK USIA DINI MELALUI BUDAYA SEKOLAH


Dalam pembukaan Undang – Undang Dasar  Republik Indonesia tahun 1945   telah mengamanatkan Pancasaila sebagai dasar negara Indonesia dan pandangan hidup bangsa Indonesia. Salah satu misi yang termuat dalam GBHN ( Garis – garis besar haluan negara) yaitu mewujudkan sistem  dan  iklim  pendidikan yang demokratis dan bermutu guna memperteguh akhlak mulia , kreatif, inovatif, berwawasan kebangsaan, cerdas , sehat, berdisiplin dan bertanggung jawab, berketrampilan serta menguasai ilmu pengetahuan dan tekhnologi dalam rangka mengembalikan kualitas manusia Indonesia seutuhnya.
  Pembangunan Nasional di bidang pendidikan merupakan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, aktif, kreatif, mandiri, demokratis, bertanggung jawab dalam mewujudkan masyarakat yang adil makmur berdasarkan pancasila dan UUD 1945.
Sedangkan arti dari pendidikan itu sendiri  menurut ( UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003 ) adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat, bangsa dan negara.
Memberikan pendidikan sejak  usia dini kepada anak – anak berusia balita adalah salah satu cara untuk membentuk karakter dan kepribadian anak untuk masa yang akan datang. Anak – anak yang memiliki kecerdasan yang baik biasanya akan memiliki karakter yang baik pula. Setiap orang tua pasti ingin anaknya kelak dapat berguna dan memiliki masa depan yang baik. Masa depan yang baik akan bisa tercapai jika anak diberikan pembelajaran tata krama dan juga kemandirian yang tepat. Kebiasaan – kebiasaan yang baik akan membantu anak – anak untuk bisa hidup dengan baik dan sehat. Berbagai macam cara akan dilakukan oleh orang tua untuk bisa membimbing anaknya ke arah yang baik.salah satunya dengan memasukkan anaknya ke sekolah atau lembaga pendidikan dini lain menjadi salah satu cara para orang tua untuk membentuk karakter anaknya termasuk Instansi pendidikan TK  yang  menjadi tujuan para orang tua.
 Karena kelompok anak usia dini merupakan kelompok yang sangat strategis dan efektif dalam pembinaan karakter, hal ini harus menjadi kesadaran kolektif dari seluruh elemen bangsa ini. Karena masalah pendidikan anak usia dini sampai saat ini masih banyak menyisakan persoalan. Pertama, masih banyaknya kelompok anak usia dini yang belum dapat mengakses pendidikan . Kedua, kurangnya pemahaman para guru akan hakikat tujuan pendidikan nasional untuk membangun peserta didik menjadi manusia holistik yang berkarakter. Sehingga dalam proses pembelajaran terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif. Padahal amanat Undang-Undang sudah demikian jelas bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk membentuk (peserta didik) menjadi manusia holistik yang berkarakter. Praktek seperti ini jelas akan menghambat proses pembentukan karakter anak.

Ketiga, kurangnya wawasan guru tentang pendekatan dan metode   pendidikan karakter yang tepat dalam pembentukan karakter anak usia dini. Padahal wawasan guru dalam berbagai pendekatan dan metode tersebut sangat penting dalam implementasi pendidikan karakter. Akibat kurangnya wawasan guru dalam hal model, pendekatan dan metode pembelajaran pendidikan karakter di TK, maka proses pembelajaran akan menjadi pasif dan tidak memberikan pengalaman kongkrit pada anak (Megawangi, 2011:61).

Keempat, kurang sinerginya antar sekolah, keluarga dan masyarakat. Ketiga unsur tersebut harus saling mendukung untuk peningkatan pembentukan karakter peserta didik. Akibat ketidaksinergian ini, pembentukan karakter peserta  didik menjadi parsial, dan tidak holistik, akibatnya muncul gejala anak yang bersikap baik di sekolah tetapi di luar sekolah berperilaku kurang baik. Atau sebaliknya di rumah dalam lingkungan keluarga menunjukan sikap yang baik tetapi di luar rumah tidak baik . Sikap inkonsistensi para anak  didik ini salah satunya diakibatkan kurang sinerginya antara pendidikan sekolah dan keluarga serta masyarakat.
Tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan pendidikan yang sangat mendasar dan strategis dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM), karena usia dini merupakan usia yang efektif untuk mengembangkan berbagai potensi dan kepribadian yang dimiliki.
 Maka dalam prosesnya pendidikan dan pembelajaran di pendidikan anak usia dini  harus mampu mengembangkan seluruh dimensi dan potensi serta aspek-aspek peserta didik secara utuh dan menyeluruh (holistik). Akibat dari kekurang pahaman ini    banyak praktek-praktek pembelajaran di PAUD/TK yang cenderung lebih mementingkan kemampuan akademik (calistung) daripada pengembangan aspek emosi dan sosial anak.
Dan akibatnya yang  kita temui dilapangan (TK/PAUD) justru sering terlihat sikap anak usia dini yang sedikit banyak bisa membuat miris para guru anak usia dini itu sendiri, karena tidak jarang kita temui anak yang suka bicara kotor, suka marah – marah, suka memukul dan melawan orang tua , tidak punya sopan santun, bahkan ada anak yang kadang perilakunya tidak senonoh / banyak meniru tingkah orang dewasa.
Dan bisa penulis artikan disini bahwa pergeseran nila etika yang sering ditampilkan anak usia dini di lingkungan sekolahnya diakibatkan karena pengaruh yang dibawa dari lingkungan  rumah atau masyarakat sekitar , bisa dari melihat  langsung adegan yang ditampilkan orang dewasa di rumahnya/ di lingkungan masyarakat, bisa karena pengaruh tontonan yang dilihat di TV atau mungkin  kecanggihan tehknologi baik internet,  atau lainnya.
Fakta yang sering penulis temui di sekolah yang membawa dampak buruk pada anak usia dini selain karena kemajuan tehnologi  di atas adalah  masih seringnya  :
1.      Orang tua/ pendidik  selalu mendikte anak
2.      Orang tua/ pendidik membatasi ruang gerak anak untuk bermain
3.      Orang tua/ pendidik  banyak yang memperlakukan anak dengan negatif dengan menggunakan kata – kata yang tidak mendidik : nakal, bandel, cengeng dll
4.      Orang tua/ pendidik sering memberikan hukuman baik secara fisik atau verbal
5.      Orang tua/ pendidik tidak mempercayai kemampuan anak
Jadi secara garis besar bisa ditarik garis lurus bahwa selain  akibat kemajuan di segala bidang yang dihasilkan dari pelaksanaan pembangunan saat ini termasuk kemajuan  tehnologi didalamnya juga karena dominasi orang dewasa disekitar anak yang ternyata  tidak selamanya membawa dampak positif yang akhirnya  dapat membuka peluang anak untuk berperilaku yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia.
            Dan untuk dapat meminimalkan perilaku negatif anak usia dini maka sangat dianjurkan memasukkan pendidikan karakter pada pendidikan anak usia dini  menjadi prioritas para orang tua dalam lingkungan keluarga, karena pendidikan karakter harus dimulai dari dalam lingkungan keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertum­buhan karakter anak  dan dengan dukungan para orang tua ini sangat penting dalam keberhasilan pendidikan karakter di lingkungan sekolah. Lingkungan keluarga dan masyarakat yang merupakan tempat dimana anak bergaul dan bersosialisasi  dengan orang lain memiliki tanggung jawab dalam pembentukan karakter anak. Dan begitu juga dukungan komitmen pemerintah sangat penting dalam upaya pembangunan karakter bangsa melalui kebijakan yang berpihak pada pembinaan karakter, khususnya pendidikan karakter anak usia dini.

Jika saat ini semua elemen bangsa bisa menyingsingkan lengan baju  bersama dan semuanya dengan serius berpartisipasi dalam pembentukan karakter semua anak Indonesia yang berada dalam rentang usia dini (0-6 tahun) maka saat negara ini memasuki usia emas 2045 (seratus tahun Indonesia merdeka), kita akan memiliki generasi emas yang cerdas tangguh dan berkarakter serta berakhlak mulia
A.    Pendidikan Karakter            
Pendidikan adalah proses internalisasi nilai budaya ke dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga orang dan masyarakat menjadi beradap. Pendidikan bukan hanya merupakan sarana menstransfer ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih luas lagi yakni sebagai sarana pembudayaan dan penyaluran nilai (enkulturasi dan sosialisasi).
Pendidikan karakter berasal dari gabungan kata pendidikan dan karakter . Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana  untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual  keagamaan, pengendalian  diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
  Sedangkan karakter  merupakan sifat – sifat kejiwaan , akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang  dengan yang lain.  Menurut  Dennis Coon karakter adalah jawaban mutlak untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik dalam bermasyarakat. (www. Pendidikankarakter.com/kurikulum-pendidikan-karakter)
Sedangkan pendidikan karakter menurut Ahmad Sudrajat(2010) (www.Pendidikankarakter.org) adalah suatu system penanaman nilai – nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran, atau kemaunan dan tindakan untuk melaksanakan nilai – nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa , diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil

      Menurut Gutama (perpustakaan-kemendiknas.go.id/Pendidikan Karakter pada PAUD.pdf)  Pendidikan karakter adalah  upaya penanaman nilai dan sikap, bukan pengajaran sehingga memerlukan  pola pembelajaran fungsional dan keteladanan.

       Pendidikan karakter menuntut pelaksanaan oleh 3 (tiga) pihak secara sinergis , yaitu: orang tua, satuan/lembaga pendidikan , dan masyarakat. Materi dan pola pembelajarannya disesuaikan dengan pertumbuhan psikhologis peserta didik.. Menurut  (Rencana Aksi Nasional Pendidikan Karakter, 2010) Pendidikan karakter adalah  pendidikan nilai,  pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik buruk, memelihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan  itu dalam kehidupan sehari – hari dengan sepenuh hati.   Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.

       Pendidikan karakter ini berkutat pada empat hal yaitu olah hati, olah pikir, olah rasa dan olah raga. Olah hati yang dimaksud adalah berkata, bersikap, dan berperilaku jujur. Olah pikir artinya cerdas yang selalu merasa membutuhkan pengetahuan. Olah rasa artinya memilki cita-cita. Sedang olah raga artinya menjaga kesehatan di tengah-tengah menggapai cita-cita tersebut.

       Pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif (Puskur, 2010). Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak supaya menjadi manusia, warga masyarakat dan warga negara yang baik. 
     
       Kesimpulan yang bisa penulis sampaikan adalah bahwa Pendidikan karakter  yang utuh dan menyeluruh tidak sekedar  membentuk anak –anak muda menjadi pribadi  yang cerdas dan baik, melainkan juga pada gilirannya akan menyumbangkan perubahan  dalam tatanan social kemasyarakatan menjadi lebih  baik dan manusiawi.

B.     Tujuan Pendidikan Karakter di TK
          Tujuan pendidikan karakter  pada dasarnya adalah mendorong lahirnya anak – anak yang baik (insan kamil) .Tumbuh dan berkembangnya  karakter yang baik akan mendorong peserta didik  tumbuh dengan kapasitas dan komitmennya untuk melakukan berbagai hal yang terbaik dan melakukan segalanya dengan benar  dan memiliki tujuan hidup.

          Dalam Penulisan ini ,akan penulis sampaikan secara rinci tujuan pendidikan karakter pada pendidikan anak usia dini (TK) :
1.Mengembangkan potensi kalbu/afektif/ nurani peserta didik.
2.Mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik.
3.Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik.
4.Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri , kreatif, berwawasan kebangsaan.
5.Mengembangkan lingkungan hidup sekolah sebagai lingkungan belajar  yang aman, jujur, penuh kreativitas, dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan.
(dikutip dari :materi workshop Pendidikan karater AUD di wijaya in Hotel, tahun 2011)

C.     Nilai – Nilai Karakter dalam pendidikan karakter.
        Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus , yaitu yang melibatkan  aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (Feeling) dan tindakan (action). Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistimatis dan berkelanjutan seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan ini  adalah bekal penting  dalam mempersiapkan atau menyongsong masa depan. Di TK Negeri Pembina dalam meningkatkan karakter/ akhlak mulia  yang ditunjukkan dengan kebiasaan anak dengan menerapkan nilai – nilai karakter sesuai dengan indikator  dalam  sembilan pilar karakter yang meliputi :
1.      Cinta Tuhan dan alam semesta beserta isinya
2.      Tanggung jawab, kedisplinan dan kemandirian
3.      Kejujuran
4.      Hormat dan santun
5.      Kasih saying, kepedulian dan kerjasama
6.      Percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah
7.        Keadilan dan kepemimpinan
8.        Baik dan rendah hati
9.      Toleransi, cinta damai dan persatuan


D.    Budaya Sekolah
Kebudayaan menurut Koentjaraningkat (1987) merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan miliknya melalui belajar.

Budaya sekolah adalah nilai-nilai dominan yang didukung oleh sekolah atau falsafah yang menuntun kebijakan sekolah terhadap semua unsur dan komponen sekolah termasuk stakeholders pendidikan, seperti cara melaksanakan pekerjaan di sekolah serta asumsi atau kepercayaan dasar yang dianut oleh warga sekolah. Budaya sekolah merujuk pada suatu sistem nilai, kepercayaan dan norma-norma yang diterima secara bersama, serta dilaksanakan dengan penuh kesadaran sebagai perilaku alami, yang dibentuk oleh lingkungan yang menciptakan pemahaman yang sama diantara seluruh unsur dan stakeholder sekolah baik itu kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik dan jika perlu membentuk opini masyarakat yang sama dengan sekolah
Belum semua sekolah memahami pentingnya budaya sekolah. Hal ini terlihat pada fakta bahwa belum semua sekolah memiliki program pengembangannya. Kondisi ini terjadi karena sebagian kepala sekolah belum memahami dan terampil dalam merencanakan, melaksanakan pengembangan, dan mengukur efektivitas pengembangan budaya sekolah. Hal itu tidak berarti kepala sekolah tidak memperhatikan pengembangannya. Pada kenyataannya banyak kepala sekolah yang sangat memperhatian akan pentingnya membangun suasana sekolah, suasana kelas, membangun hubungan yang harmonis untuk menunjang terbentuknya norma, keyakinan, sikap, karakter, dan motif berprestasi sehingga tumbuh menjadi sikap berpikir warga sekolah yang positif. Hanya saja kenyataan itu sering tidak tampak pada dokumen program pengembangan budaya.
Tantangan utama kepala sekolah dalam mengembangkan budaya sekolah adalah membangun suasana sekolah yang kondusif melalui pengembangan komunikasi dan interaksi yang sehat antara kepala sekolah dengan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, orang tua peserta didik, masyarakat, dan pemerintah. Komunikasi dan interaksi yang sehat memilki dua indikator yaitu tingkat keseringan dan kedalaman materi yang dibahas. Di samping itu, kepala sekolah perlu mengembangkan komunikasi multi arah untuk mengintegrasikan seluruh sumber daya secara optimal
Budaya sekolah merujuk pada suatu sistem nilai, kepercayaan dan norma-norma yang diterima secara bersama, serta dilaksanakan dengan penuh kesadaran sebagai perilaku alami, yang dibentuk oleh lingkungan yang menciptakan pemahaman yang sama diantara seluruh unsur dan personil sekolah baik itu kepala sekolah, guru, staf, siswa dan jika perlu membentuk opini masyarakat yang sama dengan sekolah
Beberapa manfaat yang bisa diambil dari upaya pengembangan budaya sekolah, diantaranya : (1) menjamin kualitas kerja yang lebih baik; (2) membuka seluruh jaringan komunikasi dari segala jenis dan level baik komunikasi vertikal maupun horisontal; (3) lebih terbuka dan transparan; (4) menciptakan kebersamaan dan rasa saling memiliki yang tinggi; (4) meningkatkan solidaritas dan rasa kekeluargaan; (5) jika menemukan kesalahan akan segera dapat diperbaiki; dan (6) dapat beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan IPTEK. Selain beberapa manfaat di atas, manfaat lain bagi individu (pribadi) dan kelompok adalah :  (1) meningkatkan kepuasan kerja; (2) pergaulan lebih akrab; (3) disiplin meningkat; (4) pengawasan fungsional bisa lebih ringan; (5) muncul keinginan untuk selalu ingin berbuat proaktif; (6) belajar dan berprestasi terus serta; dan (7) selalu ingin memberikan yang terbaik bagi sekolah, keluarga, orang lain dan diri sendiri
E.     Prinsip Pengembangan Budaya Sekolah
Upaya pengembangan budaya sekolah seyogyanya mengacu kepada beberapa prinsip berikut ini.
1.      Berfokus pada Visi, Misi dan Tujuan Sekolah. Pengembangan budaya sekolah harus senantiasa sejalan dengan visi, misi dan tujuan sekolah. Fungsi visi, misi, dan tujuan sekolah adalah mengarahkan pengembangan budaya sekolah. Visi tentang keunggulan mutu misalnya, harus disertai dengan program-program yang nyata mengenai penciptaan budaya sekolah.
2.      Penciptaan Komunikasi Formal dan Informal. Komunikasi merupakan dasar bagi koordinasi dalam sekolah, termasuk dalam menyampaikan pesan-pesan pentingnya budaya sekolah. Komunikasi informal sama pentingnya dengan komunikasi formal. Dengan demikian kedua jalur komunikasi tersebut perlu digunakan dalam menyampaikan pesan secara efektif dan efisien.
3.      Inovatif dan Bersedia Mengambil Resiko. Salah satu dimensi budaya organisasi adalah inovasi dan kesediaan mengambil resiko. Setiap perubahan budaya sekolah menyebabkan adanya resiko yang harus diterima khususnya bagi para pembaharu. Ketakutan akan resiko menyebabkan kurang beraninya seorang pemimpin mengambil sikap dan keputusan dalam waktu cepat.
4.                     Memiliki Strategi yang Jelas. Pengembangan budaya sekolah perlu ditopang oleh strategi dan program. Startegi mencakup cara-cara yang ditempuh sedangkan program menyangkut kegiatan operasional yang perlu dilakukan. Strategi dan program merupakan dua hal yang selalu berkaitan.
5.      Berorientasi Kinerja. Pengembangan budaya sekolah perlu diarahkan pada sasaran yang sedapat mungkin dapat diukur. Sasaran yang dapat diukur akan mempermudah pengukuran capaian kinerja dari suatu sekolah.
6.      Sistem Evaluasi yang Jelas. Untuk mengetahui kinerja pengembangan budaya sekolah perlu dilakukan evaluasi secara rutin dan bertahap: jangka pendek, sedang, dan jangka panjang. Karena itu perlu dikembangkan sistem evaluasi terutama dalam hal: kapan evaluasi dilakukan, siapa yang melakukan dan mekanisme tindak lanjut yang harus dilakukan.
7.      Memiliki Komitmen yang Kuat. Komitmen dari pimpinan dan warga sekolah sangat menentukan implementasi program-program pengembangan budaya sekolah. Banyak bukti menunjukkan bahwa komitmen yang lemah terutama dari pimpinan menyebabkan program-program tidak terlaksana dengan baik.
8.                    Keputusan Berdasarkan Konsensus. Ciri budaya organisasi yang positif adalah pengambilan keputusan partisipatif yang berujung pada pengambilan keputusan secara konsensus. Meskipun hal itu tergantung pada situasi keputusan, namun pada umumnya konsensus dapat meningkatkan komitmen anggota organisasi dalam melaksanakan keputusan tersebut.
9.      Sistem Imbalan yang Jelas. Pengembangan budaya sekolah hendaknya disertai dengan sistem imbalan meskipun tidak selalu dalam bentuk barang atau uang. Bentuk lainnya adalah penghargaan atau kredit poin terutama bagi siswa yang menunjukkan perilaku positif yang sejalan dengan pengembangan budaya sekolah.
10.                Evaluasi Diri. Evaluasi diri merupakan salah satu alat untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi di sekolah. Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan curah pendapat atau menggunakan skala penilaian diri. Kepala sekolah dapat mengembangkan metode penilaian diri yang berguna bagi pengembangan budaya sekolah. Halaman berikut ini dikemukakan satu contoh untuk mengukur budaya sekolah.
E. Asas Pengembangan Budaya Sekolah
Selain mengacu kepada sejumlah prinsip di atas, upaya  pengembangan budaya sekolah juga seyogyanya  berpegang pada asas-asas berikut ini:
1.      Kerjasama tim (team work). Pada dasarnya sebuah komunitas sekolah merupakan sebuah tim/kumpulan individu yang bekerja sama untuk mencapai tujuan. Untuk itu, nilai kerja sama merupakan suatu keharusan dan kerjasama merupakan aktivitas yang bertujuan untuk membangun kekuatan-kekuatan atau sumber daya yang dimilki oleh personil sekolah.
2.      Kemampuan. Menunjuk pada kemampuan untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawab pada tingkat kelas atau sekolah. Dalam lingkungan pembelajaran, kemampuan profesional guru bukan hanya ditunjukkan dalam bidang akademik tetapi juga dalam bersikap dan bertindak yang mencerminkan pribadi pendidik.
3.      Keinginan. Keinginan di sini merujuk pada kemauan atau kerelaan untuk melakukan tugas dan tanggung jawab untuk memberikan kepuasan terhadap siswa dan masyarakat. Semua nilai di atas tidak berarti apa-apa jika tidak diiringi dengan keinginan. Keinginan juga harus diarahkan pada usaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan dan kompetensi diri dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai budaya yang muncul dalam diri pribadi baik sebagai kepala sekolah, guru, dan staf dalam memberikan pelayanan kepada siswa dan masyarakat.
4.                    Kegembiraan (happiness). Nilai kegembiraan ini harus dimiliki oleh seluruh personil sekolah dengan harapan kegembiraan yang kita miliki akan berimplikasi pada lingkungan dan iklim sekolah yang ramah dan menumbuhkan perasaan puas, nyaman, bahagia dan bangga sebagai bagian dari personil sekolah. Jika perlu dibuat wilayah-wilayah yang dapat membuat suasana dan memberi nuansa yang indah, nyaman, asri dan menyenangkan, seperti taman sekolah ditata dengan baik dan dibuat wilayah bebas masalah atau wilayah harus senyum dan sebagainya.
5.                    Hormat (respect). Rasa hormat merupakan nilai yang memperlihatkan penghargaan kepada siapa saja baik dalam lingkungan sekolah maupun dengan stakeholders pendidikan lainnya. Keluhan-keluhan yang terjadi karena perasaan tidak dihargai atau tidak diperlakukan dengan wajar akan menjadikan sekolah kurang dipercaya. Sikap respek dapat diungkapkan dengan cara memberi senyuman dan sapaan kepada siapa saja yang kita temui, bisa juga dengan memberikan hadiah yang menarik sebagai ungkapan rasa hormat dan penghargaan kita atas hasil kerja yang dilakukan dengan baik. Atau mengundang secara khusus dan menyampaikan selamat atas prestasi yang diperoleh dan sebagaianya.
6.      Jujur (honesty). Nilai kejujuran merupakan nilai yang paling mendasar dalam lingkungan sekolah, baik kejujuran pada diri sendiri maupun kejujuran kepada orang lain. Nilai kejujuran tidak terbatas pada kebenaran dalam melakukan pekerjaan atau tugas tetapi mencakup cara terbaik dalam membentuk pribadi yang obyektif. Tanpa kejujuran, kepercayaan tidak akan diperoleh. Oleh karena itu budaya jujur dalam setiap situasi dimanapun kita berada harus senantiasa dipertahankan. Jujur dalam memberikan penilaian, jujur dalam mengelola keuangan, jujur dalam penggunaan waktu serta konsisten pada tugas dan tanggung jawab merupakan pribadi yang kuat dalam menciptakan budaya sekolah yang baik.
7.                    Disiplin (discipline). Disiplin merupakan suatu bentuk ketaatan pada peraturan dan sanksi yang berlaku dalam lingkungan sekolah. Disiplin yang dimaksudkan dalam asas ini adalah sikap dan perilaku disiplin yang muncul karena kesadaran dan kerelaan kita untuk hidup teratur dan rapi serta mampu menempatkan sesuatu sesuai pada kondisi yang seharusnya. Jadi disiplin disini bukanlah sesuatu yang harus dan tidak harus dilakukan karena peraturan yang menuntut kita untuk taat pada aturan yang ada. Aturan atau tata tertib yang dipajang dimana-mana bahkan merupakan atribut, tidak akan menjamin untuk dipatuhi apabila tidak didukung dengan suasana atau iklim lingkungan sekolah yang disiplin. Disiplin tidak hanya berlaku pada orang tertentu saja di sekolah tetapi untuk semua personil sekolah tidak kecuali kepala sekolah, guru dan staf.
8.      Empati (empathy). Empati adalah kemampuan menempatkan diri atau dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain namun tidak ikut larut dalam perasaan itu. Sikap ini perlu dimiliki oleh seluruh personil sekolah agar dalam berinteraksi dengan siapa saja dan dimana saja mereka dapat memahami penyebab dari masalah yang mungkin dihadapai oleh orang lain dan mampu menempatkan diri sesuai dengan harapan orang tersebut. Dengan sifat empati warga sekolah dapat menumbuhkan budaya sekolah yang lebih baik karena dilandasi oleh perasaan yang saling memahami.
9.      Pengetahuan dan Kesopanan. Pengetahuan dan kesopanan para personil sekolah yang disertai dengan kemampuan untuk memperoleh kepercayaan dari siapa saja akan memberikan kesan yang meyakinkan bagi orang lain. Dimensi ini menuntut para guru, staf dan kepala sekolah tarmpil, profesional dan terlatih dalam memainkan perannya memenuhi tuntutan dan kebutuhan siswa, orang tua dan masyarakat
 Sebagai seorang guru pendidikan anak usia dini (TK)  yang merasa ikut bertanggung jawab dan peduli akan kelancaran pendidikan utamanya pendidikan karakter untuk kesiapan anak didiknya, tidak ada salahnya bila guru  berinisiatif  dan menyampaikan ide  / memikirkan cara mengembangkan budaya sekolah yang nantinya dapat mendukung pelaksanaan pendidikan karakter yang akhirnya diharapkan mampu membangun karakter anak usia dini kepada kepala sekolah sebagai pembuat  kebijakan sekolah.


1.      Bagaimana penerapan  pendidikan karakter di TK Negeri Pembina Kawedanan?’.
Secara khusus proses pendidikan  di TK harus mampu mempersiapkan anak untuk mendapatkan tantangan kehidupan dan tantangan akademik. Dan untuk memelihara kesehatan, keutuhan, dan rasa ingin tahu anak, dengan cara memaksimalkan potensi bawaan anak-anak, mengembangkan keterampilan, nilai-nilai, dan semangat anak untuk belajar. Lembaga pendidikan anak usia dini di TK harus berupaya untuk menciptakan suatu aktivitas pengembangan secara keseluruhan, melalui penguasaan pengetahuan, penguasaan keterampilan dan pembentukan karakter.
 Para pendidik anak usia dini (TK)  hendaknya  dapat membantu anak-anak untuk menemukan bakat mereka sendiri, dan untuk mewujudkan potensi mereka secara utuh, menjamin kesetaraan belajar bagi semua anak, dan menghormati keragaman perbedaan budaya dan individu. Dan juga sangat penting untuk selalu menumbuhkan perasaan positif anak tentang dirinya,  hubungan mereka dengan teman-teman sebaya , keluarga dan masyarakat.
Membangun karakter anak didik (khususnya anak usia dini) tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, karena diperlukan keseriusan, kerja keras, berkesinambungan dan kekompakan serta keteladanan stake holder pendidikan. Itulah prasyarat agar pendidikan karakter dapat menjadi budaya sekolah, dalam menanamkan dan menumbuhkan pendidikan karakter pada anak usia dini dapat dilakukan melalui :
a.       Pembelajaran
Pembelajaran yang aktif , inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan adalah yang harus dikuasai oleh guru dalam memandu pembelajaran di kelas. Ini adalah upaya guru dalam mengembangkan potensi kecerdasan anak   dan untuk mendekatkan komunikasi dengannya.
Pendidikan karakter diharapkan bisa diintegrasikan di dalam pembelajaran. Masukkan nilai – nilai karakter dalam RKH , realisasikan nilai – nilai karakter dalam pembelajaran di kelas. Sepuluh menit cukuplah untuk mengenalkan dan membimbing anak . padukan dengan penilaian hasil belajar dengan nilai – nilai karakter menjadi nilai akhir hasil belajar yang menyeluruh.
b.      guru sebagai model karakter
guru adalah sosok yang dapat digugu dan ditiru (bahasa jawa), artinya guru adalah sosok model bagi anak didik dalam bersikap, bertindak, berperilaku dan bertutur. Selain itu guru harus bisa menjadi teladan bagi anak didik, baik dalam bidang keterbukaan maupun ketertiban/ kedisiplinan.  Dengan demikian guru dituntut untuk selalu menampilkan pribadi yang ideal bagi model anak didiknya. Guru di era global adalah guru yang profesional, kreatif dan inovatif  bersedia membentangkan wawasannya, mampu meletakkan dasar  moral dan menyemayamkan nilai – nilai karakter pada diri anak didiknya.
             c.Kegiatan parenting.
                 Keterlibatan orang tua  sangat penting  dalam pendidikan anak usia dini, oleh karena itu kerjasama kemitraan anatara orang tua dan lembaga pendidikan anak usia dini merupakan suatu hal yang mutlak, demi mengoptimalkan perkembangan anak secara utuh dan menyeluruh, sehingga mereka menjadi insan yang cerdas, tangguh, dan berkarakter unggul. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan adalah pendidikan anak usia dini berbasis parenting, dimana orang tua dituntut untuk aktif menjalin kerja sama dengan sekolah demi tercapainya pendidikan anak-anak tercinta secara optimal. Demikian juga sebaliknya sekolah dalam hal ini lembaga pendidikan anak usia dini (TK) hendaknya menyediakan kegiatan yang secara khusus untuk menjalin kerjasama dengan orang tua. Kegiatan tersebut dapat berupa program “ko parenting”, yaitu kegiatan kemitraan antara orang tua dan sekolah sebagai sarana untuk menginformasikan berbagai kegiatan di sekolah dan kemungkinan usaha-usaha yang dapat dilakukan orang tua dalam mendukung pengembangan potensi anak-anak tercinta secara optimal.



2.  Bagaimana cara membangun karakter anak usia dini (Character Building) melalui budaya sekolah?”.
Seperti yang telah penulis sampaikan bahwa membangun karakter anak sejak usia dini sangat penting  dan untuk membangun karakter anak diperlukan suatu cara yang dapat dilaksanakan anak dengan tanpa merasa ditekan atau digurui, tetapi anak cukup melihat , meniru dan melaksanakan (praktek langsung ) tentang bagaimana cara bertindak sesuai dengan budaya sekolah yang telah ditentukan pihak sekolah.
UNESCO mengungkapkan bahwa guru adalah agen perubahan (agent of change) yang mampu mendorong terhadap pemahaman dan toleransi, dan tidak sekedar hanya mencerdaskan anak didik tetapi mampu mengembangkan kepribadian yang utuh , berakhlak dan berkarakter (E. Mulyasa 2007: 184) melalui budaya  kelas yang dikembangkan menjadi lebih luas menjadi budaya sekolah .
Budaya kelas yang dapat dikembangkan menjadi budaya sekolah adalah semua kegiatan pendidikan karakter yang dapat diterapkan dan dilaksanakan semua stakeholder ( kepala sekolah, guru / pendidik, tenaga kependidikan, anak didik, bahkan sampai orang tua / wali murid).
Membangun karakter anak usia dini (AUD) melalui budaya sekolah bisa dilaksanakan melalui :
a.        Sikap Religius
Pembelajaran Agama (NAM) tidak dilaksanakan secara kognitif saja dengan hanya menyampaikan konsep agama saja. Tetapi lebih dari itu yaitu  dengan pembelajaran agama yang menekankan pada perilaku beragama , anak langsung menerapkan dalam kehidupan sehari – hari, misalnya dengan  praktek sholat berjamaah, manasik haji, merayakan Idhul Qurban dan membayar zakat, berkunjung ke panti asuhan, bersikap hormat pada orang yang lebih tua, sayang pada teman.
b.      Disiplin
Untuk melatih kedisiplinan anak mulai dari awal harus sudah dilatih untuk mentaati aturan / tata tertib yang berlaku , baik tata tertib kelas ataupun sekolah. Selain itu disetiap sudut kelas ataupun sudut sekolah terpampang slogan – slogan yang mengandung nilai – nilai karakter. Anak wajib mematuhi semua tata tertib yang berlaku.
c.       Mencintai lingkungan
Menjaga kelestarian lingkungan ( kelas / sekolah) harus sudah dikenalkan pada anak sejak dini, selain anak harus bisa  membuang sampah pada tempatnya, membedakan sampah basah dan kering, memanfaatkan barang limbah, memanfaatkan daun – daun kering (sampah), merawat tanaman ( menyirami, mencabuti rumput pengganggu), merawat binatang peliharaan ( memberi makan).
d.      Sabar menunggu giliran (budaya antri)
Guru mengenalkan karakter sabar menunggu giliran dalam kegiatan makan bersama , dengan membiarkan anak mengambil sendiri makanan  yang telah disajikan di atas meja ,selain itu anak bisa menulis nama di papan presesnsi /kehadiran yang sengaja diletakkan guru diluar kelas,  anak juga berbaris di depan kelas sebelum masuk , dan anak menyimpan / mengambil sepatu dengan bergiliran (tidak berebut).
e.       Rasa ingin tahu
Untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, dalam pembelajaran tidak selalu dilakukan di dalam kelas (In door) tetapi juga dilakukan di luar kelas (out door), anak latihan mengamati lingkungan, anak belajar sains sederhana, bahkan anak juga bisa diajak langsung kunjungan ke kantor pemerintah, pasar, pabrik, perkebunan dan lain sebagainya.
f.       Sikap kreatif
Untuk mengembangkan kreativitas anak, guru hendaknya mampu membuka ruang seluas – luasnya untuk anak berekspresi (menyalurkan bakat dan minatnya) , baik dengan mengikuti ekstra kurikuler menari, melukis, drum band, bermain angklung .
g.      Kerjasama
Anak  diberi kesempatan untuk menyelesaikan tugas dengan kelompok, bermain bersama baik bermain di luar ataupun bermain di dalam. Makan bersama ataupun melaksanakan kegiatan cooking class.

h.      Mandiri
Dalam melatih kemandirian anak, guru bisa mengajak anak – anak untuk mampu melakukan kegiatan sendiri, dengan membereskan mainan setelah selesai bermain, menyimpan tas di locker, menyimpan alat tulisnya,  memakai sepatu sendiri, mencuci tangan, BAB dan BAK sendiri, makan sendiri.
i.        Kejujuran
Dengan adanya kantin kejujuran di TK anak – anak belajar untuk latihan jujur, menyimpan barang / uang temuan di kotak temuan.

Budaya sekolah yang telah dikembangkan di TK Negeri Pembina Kawedanan adalah sebagai berikut :
1.      Bertakwa kepada Tuhan ( doa sebelum dan sesudah kegiatan, sholat berjamaah setiap hari jumat/ yang nasrani ikut kegiatan kebaktian, merayakan idhul qurban, pondok romadhon)
2.      Selalu memberi salam ketika masuk kelas, bertemu guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, teman atau tamu  ( 7 S : salam, sapa, senyum, sambut, sopan, santun, syukur)
3.      Selalu tertib ketika mengikuti upacara bendera, doa pagi, senam/ fisik motorik di luar
4.      Mengikuti tata tertib kelas ketika sedang belajar
5.      Bersikap sopan saat makan bersama ( sabar menunggu giliran, makan dengan duduk , tidak berbicara).
6.      Dapat bekerjasama dengan teman saat bermain di luar ( sabar menunggu giliran, mau berbagi, mau gantian ) saat bermain atau di ruang perpustakaan.
7.      Selalu disiplin dengan memakai baju seragam yang telah ditentukan sekolah,  saat mengikuti kegiatan ekstra kurikuler
8.      Bersikap tenang saat di perpustakaan ( tidak berebut buku, tenang, menyimpan buku kembali pada tempatnya).
9.      Menjaga kebersihan kelas/ lingkungan sekolah dengan membuang sampah pada tempatnya ( dapat membedakan sampah basah dan kering)
10.  Bersikap jujur  ( ketika di kantin, atau menemukan barang/ uang yang bukan miliknya dengan memasukkan ke dalam kotak temuan)

c.       Hasil Yang Diperoleh
Hasil nyata yang sudah  dicapai TK Negeri Pembina Kawedanan  karena melaksanakan pengembangan nilai karakter  melalui budaya sekolah adalah :
1.      Juara harapan IV lomba UKS tingkat propinsi Jawa Timur Tahun 2010
2.      Juara III lomba UKS tingkat propinsi JawaTimur pada tahun 2011
3.  Juara 1 Lomba Widya Pakarti Nugraha tingkat kabupaten  Magetan tahun   2012.
4.  Juara II Lomba UKS / LLSS tingkat propinsi pada tahun 2012
5.  Juara III Lomba Widya Pakerti Nugraha Tingkat Propinsi tahun 2013
6.  Juara II Lomba UKS/LLSS tingkat Propinsi tahun 2013

A.      Kesimpulan.
                 Pada dasarnya pengembangan nilai budaya dan karakter  sebisa mungkin disampaikan sejak jenjang  anak usia dini, mengingat pada masa ini adalah masa pembentukan karakter dan kepribadian sehingga anak mudah sekali dipengaruhi dan dibentuk sesuai dengan apa yang kita harapkan. Dari apa yang sudah dilaksanakan oleh Taman Kanak-kanak Negeri Pembina Kawedanan tentang pengembangan budaya dan nilai karakter dapat kami simpulkan bahwa karena yang kita hadapi adalah anak usia dini ( 3 – 6 tahun ) maka dibutuhkan adanya ketelatenan, konsistensi, keteladanan pembiasaan dan rutinitas tingkat tinggi agar anak / peserta didik  dapat benar-benar memahami tentang nilai karakter.
     Dengan membangun karakter anak sejak dini melalui budaya sekolah yang melibatkan stake holder sekolah akhirnya TK Negeri Pembina Kawedanan dapat memetik manfaatnya, tidak hanya lingkungan sekolah yang  bersih dan  asri, anak didik yang berkarakter tetapi juga pengakuan dari masyarakat terhadap lembaga sekolah maupun penghargaan yang didapat sekolah dari Instansi terkait baik berupa kepercayaan maupun trophy, piagam dan reward dalam bentuk lainnya. Tetapi lebih dari itu diharapkan nantinya output dari TK Negeri Pembina bisa menjadi generasi penerus yang dapat ikut andil dalam pembangunan Indonesia.
B.      Saran
Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik lagi dalam membangun karakter anak  melalui budaya sekolah , maka penulis sarankan agar  buadaya sekolah yang telah dimulai dari budaya kelas hendaknya dijadikan suatu aturan yang jelas dan tertulis sehingga bersifat mengikat semua stake holder sekolah, dan untuk kedepannya kegiatan  yang bersifat kompetisi antar warga kelas yang melibatkan kerjasama antara anak, orang tua dan guru  bisa diprogramkan, misalnya : lomba kebersihan kelas, lomba membuat alat peraga dari limbah dan lainnya.




DAFTAR PUSTAKA

Ayi  Alim. 2010. Mencari Metode Pendidikan Karakter Untuk PAUD. UPI Bandung.
Materi workshop propinsi jatim .2012. pendidikan karakter.
Megawangi,R. (2009), Pendidikan Karakter. Indonesia Heritage Foundation, Jakarta. Cetakan ke 3
Pendidikan Karakter Anak Usia Dini .Perpustakaankemendiknas go.id.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional, No. 58 Tahun 2009, Tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini.
Puskur, Balitbang Kemdiknas. (2010), Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah .Jakarta.
Puskur Balitbang Depdiknas. (2007). Pedoman Pendidikan Anak Usia Dini Jakarta: Puskur Balitbang Depdiknas.
Sumber adaptasi dari: Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional.2007. Pengembangan Budaya dan Iklim Pembelajaran di Sekolah (materi diklat pembinaan kompetensi calon kepala sekolah/kepala sekolah). Jakarta. Megawangi, R. 2004. Pendidikan Karakter, Solusi yang Tepat Untuk Membangun Bangsa. Jakarta: Indonesia Heritage Foundation
Tim Penyusun Pusat Bahasa. (2001). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi IIIJakarta: Balai Pustaka.
Undang-undang No. 20 Tahun  2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bandung: Fokusmedia, 2005.